Media Kampung, Slow jogging, metode lari dengan kecepatan setara berjalan kaki, kini menjadi tren olahraga yang digemari berbagai kalangan. Teknik ini menawarkan solusi aman bagi lansia, pemula, atau mereka yang sedang dalam masa pemulihan cedera.
Berbeda dengan lari pada umumnya, slow jogging dilakukan dengan kecepatan 3–5 kilometer per jam dan langkah pendek sekitar 180 langkah per menit. Metode ini dikembangkan oleh Prof. Hiroaki Tanaka dari University of Fukuoka, Jepang, sejak 2015.
Apa Itu Slow Jogging?
Slow jogging adalah aktivitas lari dengan intensitas rendah yang mempertahankan detak jantung pada zona pembakaran lemak. Teknik pendaratan kaki pada bagian tengah atau depan telapak kaki membuat otot betis lebih aktif dibandingkan saat berjalan biasa.
Manfaat Slow Jogging bagi Kesehatan
Penelitian menunjukkan slow jogging mampu membakar kalori dua kali lebih banyak dibanding berjalan kaki dalam durasi yang sama, dengan estimasi 400–600 kilokalori per jam. Selain itu, olahraga ini melibatkan hampir seluruh otot tubuh, termasuk otot inti, gluteus, paha depan, hamstring, dan betis.
Dari segi fungsi organ, slow jogging merangsang pelepasan hormon endorfin dan Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF) yang mendukung kesehatan otak dan menurunkan risiko demensia. Kapasitas paru-paru meningkat, jantung memompa darah lebih efisien, dan sensitivitas insulin membaik sehingga kadar gula darah lebih terkendali.
Siapa yang Cocok Melakukan Slow Jogging?
Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga, dr. Andi Kurniawan, Sp.KO., Subsp.ALK(K), menjelaskan bahwa slow jogging sangat cocok untuk:
- Orang dengan obesitas yang tidak dianjurkan olahraga intensitas tinggi.
- Mereka yang sedang dalam pemulihan pascaoperasi atau cedera.
- Lansia yang ingin menjaga massa otot.
- Individu dengan risiko gangguan jantung.
Dengan segudang manfaat dan risiko cedera yang rendah, slow jogging menjadi pilihan olahraga yang efektif dan aman untuk semua usia.






















Tinggalkan Balasan