Media Kampung, Sumenep — Upaya menekan angka stunting tidak hanya dilakukan saat seorang perempuan hamil atau memiliki anak. Pencegahan justru perlu dimulai sejak masa remaja, terutama dengan membekali remaja putri pemahaman mengenai pola hidup sehat dan pentingnya menjaga kesehatan reproduksi. Langkah ini menjadi investasi jangka panjang untuk melahirkan generasi yang sehat dan berkualitas.

Masa remaja merupakan periode penting dalam pembentukan kondisi fisik dan mental. Pada fase ini, kebutuhan gizi harus terpenuhi agar pertumbuhan berlangsung optimal. Remaja putri yang mengalami anemia, kekurangan gizi, atau memiliki pola makan tidak seimbang berisiko menghadapi masalah kesehatan saat memasuki masa kehamilan di kemudian hari, yang dapat meningkatkan risiko melahirkan bayi stunting.

Menurut Nunung Fitriana, Sekretaris Cabang Koalisi Perempuan Indonesia Sumenep, edukasi mengenai pola hidup sehat perlu mencakup konsumsi makanan bergizi seimbang, aktivitas fisik rutin, istirahat cukup, serta menghindari kebiasaan merokok, minuman beralkohol, dan penyalahgunaan narkoba. “Selain menjaga kesehatan tubuh, kebiasaan tersebut juga berperan penting dalam menjaga kesehatan organ reproduksi,” ujarnya saat berdialog bersama RRI pada Jumat, 10 Juli 2026.

Pemahaman tentang kesehatan reproduksi juga perlu diberikan sejak dini. Remaja putri harus mengetahui pentingnya menjaga kebersihan organ reproduksi, memahami siklus menstruasi, mencegah pernikahan usia dini, serta mempersiapkan kehamilan pada usia yang matang. Kehamilan yang direncanakan dalam kondisi fisik dan mental yang sehat akan meningkatkan peluang lahirnya bayi dengan pertumbuhan optimal.

Selain keluarga, sekolah memiliki peran strategis dalam memberikan edukasi kesehatan. Melalui kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), penyuluhan dari tenaga kesehatan, hingga program pemberian tablet tambah darah, remaja putri dapat memperoleh pengetahuan sekaligus layanan yang mendukung kesehatan mereka.

Pemerintah juga terus memperkuat upaya percepatan penurunan stunting melalui berbagai program yang menyasar remaja, calon pengantin, ibu hamil, dan balita. Pendekatan ini menegaskan bahwa pencegahan stunting merupakan tanggung jawab bersama yang melibatkan keluarga, tenaga kesehatan, lembaga pendidikan, serta masyarakat.

Mewujudkan generasi bebas stunting bukanlah target yang mustahil apabila pencegahan dilakukan sejak awal kehidupan remaja. Dengan membangun kesadaran akan pentingnya pola hidup sehat dan kesehatan reproduksi, remaja putri dapat tumbuh menjadi calon ibu yang sehat, sehingga mampu melahirkan generasi Indonesia yang cerdas, kuat, dan bebas stunting.