Media Kampung, Konsep kafaah atau sekufu dalam hukum keluarga Islam masih hidup di tengah masyarakat, termasuk dalam hubungan yang berawal dari dating apps. Namun, pemaknaan yang kaku dan sempit berpotensi menjadikannya alat untuk mempertahankan gengsi sosial, bukan untuk melindungi keutuhan rumah tangga.
Dalam literatur fikih klasik, kafaah dipahami sebagai kesepadanan antara calon suami dan istri, mencakup aspek agama, nasab, status sosial, pekerjaan, dan ekonomi. Mazhab Hanafi misalnya memasukkan unsur keturunan, profesi, dan kemerdekaan, sementara ulama lain lebih menekankan agama dan akhlak. Perbedaan ini menunjukkan bahwa kafaah bukan konsep tunggal yang beku, melainkan hasil ijtihad yang dipengaruhi kondisi zamannya.
Di era digital, batas sosial terasa lebih cair. Banyak orang bertemu melalui Instagram, Tinder, Bumble, atau Telegram, lalu menjalin hubungan serius. Namun, ketika hubungan hendak dibawa ke jenjang pernikahan, sering muncul pertanyaan seperti “Kerjanya apa?”, “Keluarganya bagaimana?”, atau “Pendidikannya sepadan tidak?” — pertanyaan yang sebenarnya merefleksikan konsep sekufu, meski tidak disebut secara eksplisit.
Fenomena ini menunjukkan bahwa sekufu belum benar-benar hilang, hanya hadir dalam bentuk restu yang ditahan atau standar keluarga yang dibungkus kalimat “kami cuma ingin yang terbaik”. Padahal, Al-Quran surat Al-Hujurat ayat 13 menegaskan bahwa ukuran kemuliaan di sisi Allah bukanlah nasab, kekayaan, atau status sosial, melainkan ketakwaan.
Rasulullah SAW juga bersabda, “Perempuan dinikahi karena empat hal: hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah yang baik agamanya, niscaya engkau beruntung.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menekankan bahwa faktor lahiriah bukanlah ukuran utama.
Jika kafaah ingin tetap relevan, ia perlu dimaknai ulang secara lebih substantif. Kesepadanan dalam pernikahan tidak lagi cukup dinilai dari kesamaan kelas sosial, melainkan dari visi hidup, kedewasaan emosional, kemampuan berkomunikasi, kesiapan tanggung jawab, dan komitmen bertumbuh bersama. Kafaah bisa menjadi ruang refleksi untuk bertanya jujur apakah hubungan cukup kuat untuk dijalani dalam realitas rumah tangga yang tidak selalu romantis.
Pada akhirnya, sekufu masih penting, tetapi bukan dalam pengertian lama yang kaku. Ia relevan jika diartikan sebagai kesepadanan dalam nilai, tanggung jawab, dan visi hidup. Sebaliknya, ia kehilangan relevansi ketika dipakai untuk mengukur kelayakan pasangan semata-mata dari status sosial atau gengsi keluarga. Di era dating apps, pertanyaan yang lebih tepat bukan “Apakah dia pantas untuk keluargaku?”, melainkan “Apakah kami benar-benar siap berjalan bersama dalam kehidupan yang sesungguhnya?”






















Tinggalkan Balasan