Media Kampung, SumenepPolusi udara perkotaan tidak hanya merusak sistem pernapasan, tetapi juga mengancam kualitas genetika sperma pria. Temuan terbaru peneliti kesehatan Eropa menunjukkan kerusakan molekuler akibat paparan gas beracun secara terus menerus.

Studi berskala besar selama empat tahun yang melibatkan lebih dari dua ribu pria di Utah, Amerika Serikat, menemukan perubahan kimia pada struktur molekul genetika sperma. Para sukarelawan memberikan sampel semen secara berkala untuk mendeteksi perubahan metilasi asam deoksiribonukleat (DNA), proses yang mengatur aktivitas genetik tanpa mengubah urutan kode aslinya.

Perubahan kimiawi tersebut terbukti mengganggu pembentukan kromosom utama dan menghambat pemeliharaan sel reproduksi pria dewasa. Tim peneliti mengukur paparan polutan luar ruangan selama tiga bulan, yang merupakan siklus kritis produksi sperma. Zat berbahaya yang dipantau meliputi nitrogen dioksida dan partikel halus di atmosfer.

Gas ozon dan nitrogen dioksida menjadi polutan paling berpengaruh karena bersumber dari emisi kendaraan. Kedua senyawa ini sering ditemukan dalam kadar tinggi di wilayah urban padat aktivitas industri. Ilmuwan kesehatan lingkungan Carrie Nobles menegaskan bahwa paparan udara buruk pada fase krusial dapat mengubah metilasi genetika reproduksi.

Perubahan fatal ini diyakini mampu memengaruhi perkembangan awal embrio dan menurunkan tingkat kesuburan pasangan usia subur. Riset berhasil mengidentifikasi 39 perubahan metilasi pada gen yang mengatur pertumbuhan janin. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa lingkungan hidup ayah dapat memengaruhi kesehatan calon anak.