Media Kampung – Olahraga lari kini telah menjadi gaya hidup yang digemari banyak orang, termasuk mereka yang hidup dengan kondisi kesehatan tertentu. Keterbatasan fisik tidak menghalangi semangat untuk tetap aktif berlari. Bagi individu dengan kondisi medis seperti asma, diabetes, atau gangguan jantung, lari tetap bisa dilakukan asal tidak memaksakan kemampuan tubuh. Hal ini ditegaskan oleh Mayo Clinic, yang menyarankan pengaturan intensitas latihan, pola makan, dan waktu istirahat agar aktivitas lari tetap aman.

Beberapa anggota komunitas teman kumparan membuktikan bahwa dengan penyesuaian yang tepat, berlari secara konsisten tetap mungkin dilakukan. Muhammad Muhaimin Marta (34) misalnya, didiagnosis mengidap Mitral Valve Prolapse (MVP), yaitu kelainan pada katup jantung yang menyebabkan katup mitral tidak menutup sempurna. Kondisi ini meningkatkan risiko aritmia atau detak jantung tidak beraturan, sehingga Muhaimin harus sangat berhati-hati saat berlatih. Ia mengaku tidak bisa memacu diri terlalu keras. “Mitral Valve Prolapse memiliki risiko aritmia atau detak jantung yang tidak beraturan. Kendala ini membuat saya nggak bisa push saat latihan berlari lebih kencang,” ujarnya.

Alih-alih mengejar kecepatan, Muhaimin memilih strategi berlari dengan intensitas ringan namun durasi lebih panjang agar tubuhnya bisa beradaptasi dengan aman. Usaha ini membuahkan hasil manis ketika ia berhasil menyelesaikan marathon 42 kilometer di Jakarta International Marathon 2026 dengan catatan waktu 5 jam 39 menit. “Bukan main terharunya, saya berhasil finish 42 KM … Menjelang garis finish air mata saya menitik haru, terlebih istri dan anak saya menanti di balik garis finish,” kenangnya. Ke depan, ia bercita-cita mengikuti Copenhagen Marathon. Motivasi utamanya sederhana: sejak didiagnosis MVP, ia semakin bersemangat memperbaiki gaya hidup dan berlatih secara terukur agar bisa hidup sehat lebih lama bersama keluarga.

Cerita inspiratif lain datang dari Chasanah (31), yang hidup dengan skoliosis—kelainan tulang belakang. Kondisi ini mengharuskannya lebih bijak dalam menyesuaikan ritme lari. Ia tidak bisa memaksakan tubuh saat latihan atau mengikuti race. “Kalau terlalu di-pressure, rasa pegal akan mulai terasa. Saya sering rehat sebentar untuk stretching di track saat lari,” katanya. Selain tantangan fisik, Chasanah juga diuji secara mental; kadang ia merasa ingin menangis ketika nyeri tulang belakang muncul saat berlari.

Untuk mengendalikan kondisinya, Chasanah selalu mengikuti arahan instruktur, antara lain menghindari penggunaan satu sisi tubuh sebagai tumpuan, melakukan peregangan yang berlawanan arah dengan kelengkungan tulang belakang (skoliosisnya berbentuk S terbalik), serta fokus membuka sisi kanan punggung atas yang melengkung dan meluruskan punggung bagian bawah. Ke depannya, ia berharap bisa mengikuti lebih banyak ajang lari seperti Garmin Run, JRF, dan BTN Jakarta International Marathon untuk kategori 5K. Dari pengalamannya, Chasanah belajar untuk tidak terlalu overthinking terhadap hal-hal yang belum tentu terjadi. “Masih ada sebersit harapan bahwa kita mampu melewati rasa takut kita sendiri. Salam We Love, We Care, We Share,” tutupnya.


Artikel ini telah ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Media Kampung.