Media Kampung – Di tengah padatnya aktivitas digital, beberapa anggota komunitas Teman Kumparan memutuskan untuk sesekali log off media sosial demi memberi ruang bagi pikiran.

Log off media sosial ternyata tidak hanya sekadar berhenti scrolling, melainkan juga memberikan manfaat kesehatan mental seperti menurunkan stres, meningkatkan fokus, dan memperbaiki kualitas tidur, sebagaimana diungkap Coda Pharmacy.

Namun, tidak semua orang menganggap log off relevan, terutama mereka yang mengandalkan media sosial sebagai sumber utama informasi, tren, dan pekerjaan sehari-hari.

Raka, 23 tahun, seorang content creator freelance, mengakui sulit menerapkan log off media sosial karena pekerjaannya sangat bergantung pada Instagram dan TikTok.

“Pas balik lagi (buka medsos), kayak ‘wah gue kelewat banyak’. Jadi agak panik juga karena kerjaanku butuh update cepat,” ujarnya sambil menambahkan bahwa rasa cemas muncul ketika ia khawatir tertinggal dari tren terbaru.

Ritme kerja di dunia digital memang menuntut kecepatan, sehingga Raka merasa harus selalu up to date dengan tren, referensi konten, dan insight terbaru yang banyak tersedia di platform sosial.

Sementara itu, Alya, 19 tahun, kadang memilih log off media sosial ketika merasa terganggu oleh konten di timeline.

“Kadang aku suka ngebandingin karya sendiri sama orang lain di medsos, terus jadi insecure. Ujung-ujungnya malah nggak jadi nulis,” kata Alya, yang menjelaskan bahwa perbandingan tersebut menurunkan kepercayaan dirinya dan menghambat proses menulis.

Alya menemukan bahwa menjauh sejenak dari smartphone membuat pikirannya lebih jernih, ide mengalir lancar, dan proses menulis terasa lebih ringan.

Meskipun begitu, Alya tidak sepenuhnya meninggalkan media sosial; ia kembali menggunakannya untuk membagikan karya dan berinteraksi dengan pembaca.

Melalui media sosial, Alya memperoleh feedback yang membantu mengasah kemampuan menulis serta menemukan referensi baru untuk memperkaya sudut pandangnya.

Pengalaman kedua teman Kumparan ini menunjukkan bahwa log off media sosial dapat menjadi strategi pribadi yang berbeda-beda tergantung pada kebutuhan dan tekanan pekerjaan masing-masing.

Bagi Raka, log off menimbulkan rasa takut ketinggalan dan berpotensi mengganggu produktivitas, sementara bagi Alya, log off menjadi cara menjaga kesehatan mental dan kreativitas.

Kedua cerita menegaskan pentingnya menyeimbangkan kebutuhan profesional dengan kesejahteraan mental dalam era digital.

Data dari Coda Pharmacy menyebutkan bahwa praktik log off secara teratur dapat meningkatkan kualitas tidur hingga 30 persen serta mengurangi tingkat kecemasan secara signifikan.

Statistik tersebut mendukung alasan Alya memilih log off sebagai upaya melindungi diri dari efek toxic media sosial.

Namun, Raka tetap berpendapat bahwa bagi pekerja konten, kehadiran terus-menerus di platform sosial menjadi keharusan untuk menjaga relevansi.

Ia menambahkan bahwa strategi terbaik mungkin adalah mengatur jam kerja digital yang terstruktur, bukan sepenuhnya menghentikan akses.

Para anggota Teman Kumparan lainnya juga berbagi tips seperti menetapkan batas waktu harian, menonaktifkan notifikasi, atau menggunakan aplikasi pengatur waktu layar.

Tips tersebut berfungsi sebagai jembatan antara kebutuhan tetap terhubung dan keinginan untuk memiliki jeda mental.

Secara keseluruhan, log off media sosial bukanlah satu‑size‑fit‑all solution, melainkan pilihan yang harus disesuaikan dengan profil pekerjaan dan tingkat sensitivitas pribadi.

Komunitas Teman Kumparan terus menggalang diskusi tentang cara-cara digital detox yang realistis dan berkelanjutan.

Harapan mereka adalah menciptakan budaya online yang lebih sehat tanpa mengorbankan produktivitas dan pertumbuhan karier.

Dengan mengadopsi pendekatan yang fleksibel, baik Raka maupun Alya dapat menemukan keseimbangan antara kebutuhan profesional dan kesehatan mental.

Ke depannya, Teman Kumparan berencana mengadakan webinar yang membahas praktik log off media sosial secara lebih mendalam bersama ahli psikologi digital.

Acara tersebut diharapkan dapat memberi panduan praktis bagi pekerja kreatif dan generasi muda yang hidup di era konektivitas nonstop.

Semoga pengalaman log off yang dibagikan kini menjadi inspirasi bagi pembaca untuk mengevaluasi kebiasaan digital mereka sendiri.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.