Media Kampung – Lionnel Mpasi menjadi sorotan dunia setelah penampilan gemilangnya bersama DR Congo melawan Inggris di babak 32 besar Piala Dunia 2026. Kiper berusia 31 tahun itu hampir menggagalkan langkah Inggris, yang akhirnya menang 2-1 berkat dua gol Harry Kane di 15 menit terakhir.
Mpasi lahir pada 1 Agustus 1994 di Meaux, pinggiran timur Paris, dari orang tua asal Kongo. Ia memulai karier sebagai pemain muda Prancis, tetapi kemudian memilih membela negara asal orang tuanya, DR Congo. Debut seniornya bersama Leopards terjadi pada 1 Februari 2022 dalam laga persahabatan melawan Bahrain.
Kiper yang bermain untuk Le Havre di Ligue 1 ini bukanlah pilihan utama di klubnya, namun ia menjelma menjadi pahlawan di pentas internasional. Perannya krusial saat DR Congo melaju ke babak gugur Piala Afrika 2023, dan ia mengulangi performa impresif di Piala Dunia 2026.
Pada fase grup, Mpasi mencatatkan delapan penyelamatan saat DR Congo kalah 1-0 dari Kolombia. Bek DR Congo, Axel Tuanzebe, memuji penampilannya: “Dia luar biasa sepanjang turnamen, terutama melawan Kolombia. Dia benar-benar menjaga kami tetap dalam permainan.”
Puncaknya terjadi pada 1 Juli 2026 di Atlanta Stadium. DR Congo mengejutkan Inggris dengan gol Brian Cipenga pada menit ketujuh. Mpasi kemudian tampil gemilang, menggagalkan peluang Jude Bellingham, Marcus Rashford, dan bahkan Harry Kane sebelum turun minum. Ia juga sigap mengamankan bola-bola silang dan tembakan jarak dekat.
Namun, Inggris bangkit setelah pelatih Thomas Tuchel melakukan pergantian pemain. Anthony Gordon masuk dan memberikan umpan silang yang disundul Kane untuk menyamakan kedudukan pada menit ke-75. Sebelas menit kemudian, Kane mencetak gol kedua yang memastikan kemenangan Inggris. Mpasi hanya bisa pasrah: “Saya menawarkan tubuh saya untuk sains. Tapi kami tahu Harry Kane adalah penyerang super dan kami harus fokus padanya. Sayangnya dua kali kami kurang perhatian padanya,” ujarnya usai pertandingan.
Perjalanan DR Congo di Piala Dunia 2026 patut diacungi jempol. Ini adalah partisipasi pertama mereka sejak 1974. Mereka menahan imbang Portugal 1-1, mengalahkan Uzbekistan 3-1, dan lolos sebagai salah satu dari delapan peringkat ketiga terbaik. Kisah Mpasi menjadi salah satu cerita menarik turnamen, membuktikan bahwa kiper yang jarang menjadi starter di klub bisa bersinar di panggung terbesar.
Artikel ini telah ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Media Kampung.





















Tinggalkan Balasan