Media Kampung – Sebuah gugatan class action diajukan ke pengadilan distrik AS di California Utara, menuduh tiga produsen memori terbesar dunia—Samsung, SK Hynix, dan Micron—melakukan praktik anti-persaingan di pasar DRAM. Gugatan yang diajukan pada Kamis lalu ini mengeklaim bahwa sejak 2022, ketiga perusahaan secara bersama-sama mengatur pasokan dan harga DRAM, sehingga mendorong kenaikan harga hingga 700% dalam empat tahun.

Gugatan tersebut diajukan oleh sekelompok bisnis dan konsumen individu yang dirugikan oleh praktik tersebut. Menurut dokumen gugatan, ketiga perusahaan disebut sebagai ‘oligopolis’ yang melakukan ‘perilaku anti-persaingan yang terkoordinasi’. Mereka dituduh secara simultan memotong produksi, mengoordinasikan peralihan dari DDR3 dan DDR4, serta mengurangi pasokan DRAM konvensional sambil menaikkan harga secara drastis.

Salah satu contoh yang disebutkan adalah penutupan merek konsumen Crucial oleh Micron, yang terjadi pada titik harga paling menguntungkan dalam sejarah perusahaan. Langkah ini dinilai sebagai upaya artifisial untuk mengurangi pasokan.

Krisis harga DRAM telah berdampak luas, tidak hanya pada PC gaming yang harganya melonjak, tetapi juga pada konsol game dari Nintendo, Sony, dan Microsoft. Bahkan Apple mengeluhkan kenaikan harga komponen yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang memicu kenaikan harga MacBook dan iPad.

Gugatan juga menyoroti hambatan masuk bagi pemain baru: biaya pembangunan fab DRAM modern mencapai 15-20 miliar dolar AS dan membutuhkan waktu bertahun-tahun, sementara mesin litografi ultraviolet ekstrem hanya dipasok oleh satu perusahaan di Belanda. Selain itu, kontrol ekspor AS menghalangi produsen China untuk memperoleh peralatan terkini.

Para penggugat meminta ganti rugi dan perintah pengadilan untuk menghentikan praktik anti-persaingan tersebut. Hingga berita ini diturunkan, Samsung, SK Hynix, dan Micron belum memberikan tanggapan resmi. Analis memperkirakan bahwa perusahaan akan berdalih bahwa krisis pasokan disebabkan oleh lonjakan permintaan yang luar biasa, terutama dari industri AI, dan bukan karena kolusi.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.