Media Kampung – Dewan Energi Nasional (DEN) bersama Fakultas Teknologi Industri ITB mengadakan Sarasehan Energi pada 12 Mei 2026 di Kampus Ganesha ITB, Bandung. Acara ini menjadi forum kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan industri untuk membahas strategi transisi energi Indonesia di tengah tantangan geopolitik global.
Dr. Ir. Satya Widya Yudha, anggota DEN periode 2026-2030, memaparkan kebijakan energi nasional yang berlandaskan Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025 sebagai pijakan menuju ketahanan dan kemandirian energi. Ia mengungkapkan sektor minyak dan gas nasional menghadapi kendala seperti cadangan yang terbatas, penurunan produksi, serta ketergantungan impor yang tinggi, yang berdampak pada subsidi dan kondisi ekonomi.
Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah menyiapkan berbagai strategi, termasuk modernisasi kilang dengan teknologi yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Pemerintah juga mempercepat substitusi LPG dengan pengembangan jaringan gas rumah tangga dan mengubah kebijakan subsidi agar tepat sasaran melalui Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Selain itu, diversifikasi energi dengan penggunaan kompor listrik dan pengembangan dimethyl ether (DME) sebagai alternatif LPG turut didorong.
Dr. Satya menambahkan, langkah-langkah antisipatif terhadap ketidakpastian geopolitik, khususnya di Timur Tengah, juga disiapkan. Langkah tersebut mencakup pembatasan konsumsi energi, penghematan, pembatasan ekspor, dan kemungkinan deklarasi kondisi darurat energi untuk menjaga stabilitas pasokan nasional.
Sementara itu, Dekan Fakultas Teknologi Industri ITB, Prof. Ir. Tirto Prakoso, menyatakan bahwa sekitar setengah kebutuhan energi Indonesia masih bergantung pada impor. Meski demikian, Indonesia telah mengembangkan biofuel, khususnya biodiesel berbasis kelapa sawit, serta memanfaatkan cadangan batu bara untuk listrik nasional.
Prof. Tirto menegaskan bahwa ITB berkomitmen mendukung transisi energi melalui riset dan inovasi. Contohnya, Teknik Kimia ITB mengembangkan teknologi pengolahan bahan baku sawit menjadi biodiesel dan katalis untuk industri Pertamina serta oleokimia. Program studi lain juga aktif mengembangkan energi terbarukan seperti solar photovoltaic dan optimasi proses industri.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan