Media Kampung – CEO Take-Two Interactive, Strauss Zelnick, mengungkapkan bahwa kecerdasan buatan (AI) bukanlah alat untuk menciptakan produk hit secara instan, karena dataset yang digunakan AI bersifat reflektif dan melihat ke masa lalu. Namun, hal tersebut tidak mengurangi manfaat AI sebagai pendukung dalam proses pengembangan video game.

Dalam sebuah wawancara podcast bersama David Senra, Zelnick menegaskan bahwa teknologi AI memang dapat mempercepat pembuatan aset dalam game, tetapi kecepatan bukanlah kunci utama kesuksesan. “Siapa saja sebenarnya sudah bisa membuat video game selama bertahun-tahun terakhir ini, teknologi sudah tersedia. Namun, dari ribuan game mobile yang dirilis setiap tahun, hanya sedikit yang benar-benar menjadi hits,” ujarnya.

Zelnick menjelaskan bahwa hit game muncul dari hal-hal yang tidak terduga dan orisinal. AI, yang bekerja berdasarkan data historis, cenderung menghasilkan karya yang turunan dan kurang inovatif. “Dataset secara alami melihat ke belakang, sementara kreativitas harus melihat ke depan. Dataset dapat membantu memberi inspirasi, tapi harus ada elemen baru yang membedakan sebuah game agar menarik bagi pemain,” tambahnya.

Contoh game seperti Palworld, Marvel Rivals, dan Arc Raiders menunjukkan bahwa ide-ide baru bisa muncul dari pengembangan konsep yang sudah ada dengan sentuhan inovasi. CEO Take-Two ini juga menyatakan bahwa walau AI sangat membantu dalam pembuatan aset, AI tidak bisa menggantikan proses kreatif yang diperlukan untuk menciptakan hits sejati.

Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa meskipun alat AI semakin canggih dan mudah diakses, keberhasilan sebuah game tetap bergantung pada visi kreatif dan dedikasi pengembang. Teknologi AI hanya bagian dari proses, bukan pengganti kreativitas manusia yang mendorong inovasi dan terobosan dalam industri game.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.