Media Kampung – Pasar modul memori DDR5 menghadapi tantangan baru dengan munculnya produk palsu yang semakin meyakinkan. Situasi ini menambah kerumitan di tengah krisis pasokan dan harga memori yang sudah tinggi akibat permintaan besar dari sektor kecerdasan buatan.
Modul DDR5 palsu ini sulit dibedakan dari produk asli karena desainnya sangat mirip. Namun, chip yang terpasang sebenarnya hanyalah papan sirkuit kosong tanpa fungsi memori. Informasi ini diungkap oleh seorang pengguna di platform X dengan akun @taki_pc_1115 yang membagikan foto modul palsu tersebut. Ia memperingatkan pentingnya menguji modul memori sebelum membeli, terutama untuk barang bekas.
Kasus ini juga menyoroti modul DDR5 untuk laptop yang lebih sering mengalami pemalsuan karena bentuknya yang ringkas dan mudah disamarkan. Modul palsu bahkan dilengkapi stiker Samsung tiruan agar tampak asli. Selain itu, ditemukan pula modul SK hynix palsu yang dijual melalui platform lelang di Jepang dengan harga sekitar 12.000 yen, namun diklaim sebagai barang rusak untuk menghindari pelanggaran hukum terkait produk palsu.
Beberapa cara untuk mengenali modul memori palsu antara lain dengan memeriksa bentuk pinggiran modul yang harusnya membulat, membandingkan bentuk chip pengelola daya, dan mengecek warna papan sirkuit yang biasanya berbeda pada produk palsu. Namun, teknik ini memerlukan pengetahuan teknis cukup mendalam.
Untuk memastikan keaslian modul DDR5, pembeli bisa melakukan pengujian dengan perangkat lunak seperti HWInfo untuk memeriksa informasi perangkat keras secara rinci. Jika tidak yakin, sebaiknya membeli langsung dari sumber resmi atau penjual terpercaya dan memastikan kemasan masih tersegel dengan baik. Harga yang terlalu murah dari standar pasar juga sebaiknya diwaspadai agar terhindar dari penipuan.
Perubahan kemasan produk juga dilakukan oleh beberapa produsen seperti Corsair untuk membantu konsumen memverifikasi keaslian modul DDR5. Namun, dengan semakin canggihnya pemalsuan, kewaspadaan konsumen tetap menjadi kunci utama dalam menghindari kerugian akibat barang palsu.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan