Media Kampung – Menteri Komunikasi dan Informatika Meutya Hafid menegaskan bahwa Internet sekolah harus dimanfaatkan secara optimal, bukan sekadar menjadi infrastruktur, dalam acara Apresiasi Konektivitas Digital 2026 yang digelar di Jakarta Pusat pada Jumat, 17 April 2026. Pernyataan itu menekankan peran strategis jaringan digital bagi layanan publik.
Acara tersebut dihadiri oleh perwakilan kementerian, gubernur, kepala dinas pendidikan, dan kepala puskesmas yang membahas capaian konektivitas selama tiga tahun terakhir. Meutya menambahkan bahwa keberhasilan pembangunan jaringan tidak dapat diukur hanya dari jumlah titik akses yang terpasang.
Ia menekankan bahwa internet harus menjadi sarana pembelajaran interaktif di sekolah serta mendukung layanan telemedicine di puskesmas. “Internet harus dimanfaatkan secara nyata di sekolah dan puskesmas,” kata Meutya Hafid dalam sambutannya.
Meutya mencontohkan pilot project di Yogyakarta, di mana guru menggunakan platform pembelajaran berbasis cloud untuk mengadakan kelas daring, meningkatkan partisipasi siswa hingga 30 persen. Di puskesmas Surabaya, layanan konsultasi dokter via video berhasil menurunkan kunjungan rawat jalan sebesar 12 persen.
Namun, tantangan masih ada, termasuk keterbatasan perangkat keras di sekolah pedesaan dan kurangnya pelatihan guru dalam pemanfaatan teknologi. Di puskesmas daerah terpencil, jaringan sering terputus karena kondisi geografis yang sulit.
Pemerintah menanggapi dengan mengalokasikan tambahan anggaran Rp2,5 triliun pada APBN 2026 untuk program “Digital Edukasi dan Kesehatan“. Program ini mencakup penyediaan tablet, pelatihan digital bagi tenaga pendidik, serta upgrade infrastruktur jaringan di fasilitas kesehatan.
Kerja sama dengan pemerintah daerah dan perusahaan telekomunikasi juga diperkuat melalui skema public‑private partnership. Beberapa provinsi, seperti Jawa Barat dan Jawa Timur, telah menandatangani kesepakatan untuk memperluas jaringan 5G di sekolah dan puskesmas utama.
Harapan Meutya adalah dalam tiga tahun ke depan, setidaknya 70% sekolah dan 60% puskesmas dapat mengintegrasikan layanan digital secara rutin, sehingga kualitas pendidikan dan kesehatan meningkat secara merata. Ia menegaskan bahwa pemanfaatan data dan aplikasi cerdas akan menjadi kunci transformasi.
Hingga saat ini, proses instalasi perangkat dan pelatihan masih berlangsung di lebih dari 1.200 sekolah serta 800 puskesmas di seluruh Indonesia. Pemerintah berkomitmen menyelesaikan fase pertama pada akhir 2026, menjadikan internet sebagai alat utama dalam layanan publik.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan