Media KampungAzzedine Alaïa tidak hanya dikenal sebagai perancang busana yang merevolusi siluet perempuan dengan bahan stretch, tetapi juga sebagai kolektor pribadi karya couture paling terkemuka. Sepanjang hidupnya, ia mengumpulkan mahakarya dari desainer seperti Cristóbal Balenciaga, Christian Dior, Thierry Mugler, dan Madame Grès, membangun arsip yang bahkan melampaui koleksi internal rumah mode itu sendiri.

La Fondation Azzedine Alaïa, didirikan pada 2007 oleh Alaïa, Carla Sozzani, dan Christoph von Weyhe, bertugas melestarikan dan memamerkan koleksi tersebut. Hingga kini, yayasan telah menyelenggarakan empat pameran, termasuk pameran terbaru bertajuk “Azzedine Alaïa and Christian Dior, Masters of Couture” yang dibuka pada 2025 dan akan ditutup akhir Juni 2026. Bertepatan dengan peluncuran buku katalog pameran yang diterbitkan Damiani Books, presiden yayasan Carla Sozzani dan direktur Olivier Saillard berbagi wawasan tentang warisan Alaïa sebagai perancang dan kolektor.

Menurut Olivier Saillard, perbedaan pameran ini dengan sebelumnya adalah ketika Alaïa pertama kali datang ke Paris, ia sempat bekerja di Dior selama empat hari. Pengalaman itu menumbuhkan kekaguman besar terhadap Christian Dior sepanjang kariernya. Katalog ini menjadi penjelasan perjalanan seorang anak laki-laki yang tumbuh menjadi perancang busana besar dengan kekaguman luar biasa terhadap Dior.

Pengaruh Dior terlihat dalam karya awal Alaïa. Gaun tertua yang dimiliki yayasan, berasal dari tahun 1958, sangat terinspirasi oleh estetika Dior. Meskipun keduanya menghasilkan karya berbeda, kesamaan menonjol adalah penekanan pada garis pinggang yang tegas. Carla Sozzani menambahkan bahwa Dior merevolusi mode pasca-Perang Dunia II dengan rok panjang dan siluet pinggang terdefinisi, sementara Alaïa merevolusi dengan bahan stretch yang memberi kebebasan bergerak. Keduanya mendefinisikan zamannya masing-masing.

Suzy Menkes pernah menulis pada 1980-an bahwa Alaïa adalah satu-satunya desainer yang membentuk dekade tersebut. Saillard mengutip kalimat itu dan menegaskan bahwa Alaïa menciptakan era 1980-an sebagaimana Dior membentuk era 1950-an. Perbedaan terbesar terletak pada material: Alaïa tidak pernah menggunakan korset, melainkan menciptakan revolusi melalui teknik potong kain dengan material ringan.

Alaïa adalah pelopor dalam pelestarian fashion. Ia mulai mengoleksi karya Balenciaga pada 1968 dan tidak pernah berhenti. Sozzani menyebut bahwa Poiret mengoleksi kain, Balenciaga mengoleksi barang antik, namun tidak ada yang mengoleksi karya couture seperti Alaïa. Saillard menegaskan bahwa Alaïa adalah kolektor pribadi pertama dan paling terkemuka yang mendedikasikan dirinya pada sejarah fashion, membangun warisan budaya berharga bagi Prancis dan dunia mode.

Sozzani mengingat bahwa Jean-Paul Gaultier dan Vivienne Westwood tidak memiliki arsip pribadi. Alaïa menyimpan semuanya sejak hari pertama, bahkan dalam berbagai warna dan ukuran. Kini, arsip menjadi sangat penting bagi rumah mode untuk membangun masa depan. Bagi Alaïa, yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal, mempelajari karya para maestro adalah cara belajar. Ia terpesona oleh rahasia dan teknik mereka, dan pada akhirnya, ia bahkan menjadi lebih baik dari sebagian besar dari mereka.

Arsip juga penting untuk melestarikan teknik couture. Sozzani menekankan bahwa keterampilan kerajinan tangan sangat penting bagi generasi muda. Banyak orang sempat melupakan pentingnya keterampilan ini, tetapi kini mulai kembali mendapat perhatian. Saillard menambahkan bahwa mengapresiasi mode melalui arsip memberikan pengalaman berbeda dibandingkan foto, dan menunjukkan bagaimana keahlian dapat terus menginspirasi masa depan.

Pameran “Masters of Couture” dipilih karena couture adalah bentuk ekspresi personal. Menurut Saillard, seorang perancang busana seperti penulis yang menciptakan karyanya sendiri. Alaïa adalah salah satu couturier besar yang mampu membuat, memotong, dan menjahit sendiri karyanya. Pengetahuan penting, tetapi yang terpenting adalah keinginan menjadi seniman dan kreator bagi diri sendiri.

Sozzani melihat antusiasme generasi muda saat mengunjungi pameran. Mereka ingin menyentuh dan melihat detail di balik busana. Yayasan menata pameran secara terbuka sehingga pengunjung bisa melihat karya dari jarak dekat. Saillard menekankan pentingnya membiarkan busana berbicara seperti patung, tanpa etalase kaca. Ia terinspirasi oleh pameran seni yang menghadirkan dialog antara dua maestro, seperti Picasso dan Matisse. Hal ini jarang ditemukan di museum mode, dan yayasan senang menciptakan pertemuan langsung antara para maestro yang saling mengoleksi karya satu sama lain.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.