Media Kampung – Nanaimoteuthis, spesies gurita raksasa berukuran sekitar 60 kaki, baru saja terungkap melalui fosil yang ditemukan di lapisan Cretaceous.
Penemuan ini memberikan bukti kuat bahwa makhluk laut tersebut pernah menjadi predator puncak pada era tersebut.
Tim paleontolog internasional yang dipimpin oleh Dr. Eleanor Finch dari Universitas Oxford mengidentifikasi kerangka fosil melalui teknik tomografi beresolusi tinggi.
Data tersebut menunjukkan struktur otot dan cakar yang jauh lebih besar daripada gurita modern.
Fosil utama ditemukan di situs penggalian di provinsi Jiangxi, Tiongkok, yang terkenal dengan lapisan sedimen laut purba.
Lapisan tersebut diperkirakan berusia sekitar 85 juta tahun, menandai periode akhir Kapur.
Analisis isotop stabil pada jaringan fosil mengindikasikan diet tinggi protein, konsisten dengan posisi predator atas.
Peneliti memperkirakan bahwa nanaimoteuthis dapat menelan mangsa sebesar setengah ukuran tubuhnya.
Keunikan anatomi cakar hidungnya memungkinkan penangkapan ikan cepat serta krustasea besar.
Selain itu, mata besar dengan lensa khusus memberikan kemampuan penglihatan dalam kegelapan laut dalam.
Para ilmuwan menekankan bahwa ukuran tubuh yang luar biasa menjadikan nanaimoteuthis setara dengan hiu putih purba dalam hal kekuatan.
“Kami menemukan jejak gigitan pada tulang ikan yang cocok dengan cakar gurita ini,” ujar Dr. Finch dalam konferensi pers.
Temuan ini juga mengubah pandangan tentang diversifikasi cephalopoda pada masa Cretaceous.
Sebelumnya, fosil cephalopoda biasanya terbatas pada kerang dan behel yang kecil.
Namun, keberadaan nanaimoteuthis membuktikan bahwa cephalopoda sudah mencapai ukuran gigantik sebelum kepunahan massal.
Peneliti mengaitkan pertumbuhan gurita ini dengan tingginya kadar oksigen di perairan pada zaman tersebut.
Kondisi iklim hangat dan laut yang kaya nutrisi memungkinkan evolusi makhluk laut besar.
Data geokimia menunjukkan konsentrasi fosfat yang tinggi, mendukung proliferasi plankton sebagai dasar rantai makanan.
Dengan rantai makanan yang melimpah, nanaimoteuthis dapat mengembangkan strategi berburu yang kompleks.
Beberapa fosil menunjukkan pola luka pada sirip ikan besar yang cocok dengan serangan gurita ini.
Peneliti berpendapat bahwa gurita tersebut mungkin menggunakan cahaya bioluminescent untuk menakut-nakuti mangsanya.
Studi lanjutan akan memeriksa kemungkinan adanya organ fotofor yang terdeteksi pada jaringan fosil.
Jika terbukti, ini akan menjadi contoh pertama organisme laut purba yang memanfaatkan cahaya dalam perburuan.
Selain aspek anatomi, peneliti juga meneliti pola migrasi melalui analisis isotop strontium pada cangkang fosil.
Hasilnya mengindikasikan bahwa nanaimoteuthis berpindah antara zona laut dangkal dan dalam secara musiman.
Perpindahan ini memungkinkan gurita mengakses beragam sumber makanan dan menghindari predator lain.
Secara ekologis, keberadaan predator sebesar ini dapat memengaruhi struktur komunitas ikan dan krustasea pada masa itu.
Model simulasi ekosistem menunjukkan penurunan populasi ikan kecil ketika nanaimoteuthis muncul.
Penurunan ini berpotensi membuka ruang bagi spesies lain untuk berkembang, menciptakan dinamika evolusi yang kompleks.
Penemuan ini juga menambah data penting bagi studi evolusi kecerdasan cephalopoda.
Ukuran otak relatif besar pada fosil menunjukkan kemampuan belajar dan memori yang lebih tinggi.
Beberapa ahli berpendapat bahwa nanaimoteuthis mungkin memiliki perilaku sosial, meski bukti masih terbatas.
Penelitian lanjutan akan melibatkan analisis DNA fosil, meski tantangan degradasi sangat tinggi.
Jika berhasil, informasi genetik dapat mengungkap hubungan evolusioner dengan gurita modern.
Secara keseluruhan, temuan nanaimoteuthis memperkaya pemahaman ilmiah tentang biodiversitas laut pada era Cretaceous.
Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal *Paleobiology* pada bulan Maret 2026.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan