Media Kampung – Selaras Abdul Wahid (53), ayah dari Z (10), bocah penyandang Down syndrome yang meninggal dunia, mengungkapkan duka mendalam saat mengenang kepergian putra bungsunya. Z, yang sehari-hari menggunakan kursi roda, meninggal setelah diduga menjadi korban bullying oleh dua anak tetangganya, F (8) dan K (11).

Dalam pernyataannya, Selaras menaruh harapan besar kepada proses hukum terhadap para pelaku. Ia menyadari bahwa usia para terduga pelaku masih sangat muda, sehingga ia tidak menuntut hukuman penjara, melainkan pembinaan. “Harapan saya mohon keadilan. Saya enggak ingin anak itu dihukum, saya ingin kedua anak itu dibina oleh lembaga negara untuk dijadikan manusia yang bermanfaat,” ujarnya saat ditemui di kediamannya.

Pentingnya Pembinaan

Bagi Selaras dan istrinya, Z adalah anak kesayangan yang dibesarkan dengan penuh pengorbanan. Mereka berharap agar pemerintah dan aparat penegak hukum memberikan perhatian serius terhadap kasus ini. “Sebelum dia (pelaku) mengerti mana yang baik, mana yang buruk, mana yang hak, mana yang batil, tolong jangan dilepaskan lagi ke masyarakat. Kalau cuma dibina 6 bulan, enggak bisa, saya enggak percaya,” ucapnya.

Selaras menekankan bahwa ia ingin kedua anak yang terlibat dibina hingga dewasa agar menjadi orang yang bermanfaat untuk masyarakat.

Kronologi Kejadian

Peristiwa ini bermula pada Sabtu, 12 September 2026, ketika istri Selaras yang biasa berjualan sari kedelai di pasar berangkat berdagang sekitar pukul 07.30 WIB. Selaras, yang baru saja menjalani operasi kencing batu sebulan sebelumnya, tertidur lelap di dalam rumah. Sementara itu, Z yang juga mengidap katarak dan penyakit jantung bocor, ditempatkan di kursi roda di teras depan rumah.

Rekaman CCTV menunjukkan bahwa pada pukul 08.15 WIB, dua anak terpantau masuk ke area rumah korban dan keluar pada pukul 08.32 WIB. Salah satu anak kembali masuk pada pukul 08.37 WIB selama sekitar 10 menit untuk memastikan kondisi Z. Ketika istri Selaras pulang pada pukul 09.20 WIB, ia mendapati putranya sudah terjatuh dari kursi roda dalam kondisi membiru.

“Istri saya datang jam 09.20 teriak-teriak, ‘Bi, anake wis biru, anake wis biru’. Ternyata ada jeratan tali sepatu di lehernya,” kata Selaras. Tali sepatu yang diduga diambil dari tempat penampungan barang bekas di sebelah rumah itu dijeratkan ke leher Z. Selain itu, korban juga diduga dijejali cairan sabun dan ditaburi daun lamtoro.

Peristiwa tragis ini menjadi perhatian publik dan menimbulkan keprihatinan mengenai perundungan di kalangan anak-anak.