Media Kampung – Nenek Sofimarni, seorang penyintas gempa Padang tahun 2009, berhasil menunaikan ibadah haji dengan dukungan iuran dari anak-anaknya. Meski usianya telah menginjak 78 tahun dan mengalami cedera leher akibat bencana tersebut, ia tetap teguh menjalankan rukun Islam kelima tersebut secara mandiri di Tanah Suci.
Gempa dahsyat yang melanda Padang pada 2009 meninggalkan luka mendalam bagi Sofimarni, termasuk cedera pada bagian leher yang cukup parah. Namun, semangatnya tidak surut. Dengan bantuan dan iuran dari anak-anaknya, Sofimarni mampu mewujudkan impian menunaikan haji yang sudah lama diidamkannya.
Perjalanan spiritual Nenek Sofimarni menjadi bukti keteguhan hati dan dukungan keluarga yang solid. Meskipun tanpa pendamping selama di Tanah Suci, ia mampu menjalankan seluruh rangkaian ibadah haji dengan penuh kesungguhan. Kondisi fisiknya yang sudah lanjut usia dan cedera yang dialami tidak menghalangi keinginannya untuk beribadah secara mandiri.
Sofimarni mengungkapkan rasa syukurnya atas kesempatan yang diberikan untuk menunaikan ibadah haji. Ia juga berterima kasih kepada anak-anaknya yang telah berkorban dan berjuang mengumpulkan dana agar perjalanan suci ini bisa terlaksana. Dukungan keluarga menjadi pilar utama yang menguatkan dirinya selama menjalani ibadah di Mekkah.
Perjalanan haji Nenek Sofimarni tidak hanya menjadi pengalaman spiritual pribadi, tetapi juga menjadi inspirasi bagi banyak orang, terutama para lansia dan penyintas bencana. Keteguhan dan kemandiriannya menunjukkan bahwa keterbatasan fisik atau usia tidak menjadi penghalang untuk mencapai impian dan menjalankan ibadah sesuai kemampuan.
Hingga saat ini, Nenek Sofimarni telah kembali ke tanah air dalam keadaan sehat dan membawa pulang kenangan serta pelajaran berharga dari Tanah Suci. Kisahnya menjadi pengingat pentingnya dukungan keluarga dan keteguhan hati dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan