Media Kampung – Muji Astutik, warga Desa Lemujut, Kecamatan Krembung, Sidoarjo, berangkat menunaikan ibadah haji pada tanggal 5 Mei 2024 meskipun menggunakan kursi roda setelah mengalami stroke pada 2021.
Keberangkatan itu menandai akhir penantian 14 tahun sejak ia mendaftar pada tahun 2012, menjadikannya bagian dari Kloter 55 jemaah haji Sidoarjo.
Di Pendopo Delta Wibawa, Muji tampak tenang dengan senyum yang tak lepas, didampingi suaminya, Hugeng Muhammad Masluh, 56, yang berperan sebagai pendamping utama selama perjalanan.
Hugeng, pensiunan buruh pabrik gula, memastikan seluruh kebutuhan istrinya terpenuhi, mulai dari persiapan fisik hingga logistik selama umrah dan haji.
Setelah stroke, kondisi Muji menurun drastis, mengharuskannya bergantung pada kursi roda untuk beraktivitas, termasuk dalam kerumunan jamaah haji.
Meski begitu, ia menolak menunda panggilan suci; “Sudah lama menunggu sejak daftar. Ini memang panggilan,” ujarnya singkat namun penuh keyakinan.
Selama menunggu, keluarga Muji mengumpulkan biaya secara bertahap dari pekerjaan sehari-hari, menyesuaikan anggaran demi menutup biaya tiket, akomodasi, dan perlengkapan khusus.
Setelah proses pendaftaran, Muji harus melewati serangkaian pemeriksaan medis yang menegaskan keterbatasannya, namun ia tetap lolos dan memperoleh izin khusus untuk menggunakan kursi roda selama ibadah.
Di Tanah Suci, ia berharap dapat memperoleh kesembuhan tambahan; “Alhamdulillah masih diberi kesempatan berangkat. Semoga di sana juga diberi kesehatan dan kesembuhan,” katanya penuh harap.
Kondisi fisik Muji memang belum sepenuhnya pulih, namun tim medis haji memberikan dukungan ekstra, termasuk fasilitas transportasi yang dapat menampung kursi roda.
Perjalanan Muji tidak hanya menjadi simbol ketabahan pribadi, melainkan juga inspirasi bagi komunitas Lemujut yang menganggapnya contoh semangat melampaui keterbatasan.
Keluarga, tetangga, dan tokoh masyarakat setempat menyampaikan dukungan moral, menekankan pentingnya solidaritas dalam mewujudkan impian warga yang menghadapi rintangan kesehatan.
Setelah tiba di Tanah Suci, Muji mengikuti rangkaian ritual haji dengan bantuan tim pendamping, tetap melaksanakan tawaf, sa’i, dan wukuf di Arafah meski menggunakan kursi roda.
Ia melaporkan bahwa lingkungan haji yang inklusif memudahkan akses, dan para panitia berupaya menyesuaikan jalur peziarah agar tidak mengganggu proses ibadah lainnya.
Kisah Muji menegaskan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi panggilan spiritual, selama ada tekad, dukungan keluarga, dan kebijakan inklusif dari otoritas haji.
Dengan selesainya ibadah haji, Muji berharap pengalaman tersebut menjadi titik awal pemulihan yang lebih baik serta memberi motivasi bagi orang lain yang menghadapi tantangan serupa.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.






Tinggalkan Balasan