Media Kampung – 16 April 2026 | PCNU Aceh Utara menyoroti pentingnya bantuan pascabanjir dan menegaskan bahwa penyintas berharap bantuan jatah hidup segera cair demi memperbaiki kondisi ekonomi yang masih lemah. Penekanan tersebut muncul setelah banjir bandang melanda beberapa kecamatan pada akhir Maret 2024.

Banjir bandang yang terjadi pada 27‑28 Maret 2024 menggenangi wilayah Bireuen, Langsa, dan Lhokseumawe, menenggelamkan rumah, menghanguskan lahan pertanian, serta menimbulkan kerugian material mencapai miliaran rupiah. Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah, lebih dari 12.000 jiwa terdampak langsung, dengan 4.500 rumah rusak parah.

Majelis PCNU Aceh Utara mengadakan pertemuan khusus pada 5 April 2024 untuk menilai kebutuhan mendesak korban dan menilai efektivitas program bantuan jatah hidup. Ketua PCNU Aceh Utara, Ustadz Ahmad Zaini, menyatakan bahwa lembaga keagamaan berperan sebagai jembatan antara pemerintah dan masyarakat terdampak.

Data terbaru menunjukkan bahwa sekitar 8.200 keluarga masih menunggu pencairan bantuan jatah hidup yang ditetapkan sebesar Rp 500.000 per rumah tangga per bulan. Bantuan tersebut dirancang untuk menutupi kebutuhan pokok seperti makanan, obat-obatan, dan biaya pemulihan infrastruktur rumah.

Program jatah hidup merupakan bagian dari paket bantuan sosial pascabanjir yang dikeluarkan oleh Kementerian Sosial pada bulan April 2024, dengan total anggaran Rp 1,2 triliun untuk seluruh provinsi Aceh. Alokasi untuk Aceh Utara diperkirakan mencapai Rp 150 miliar, yang diharapkan dapat menjangkau seluruh wilayah terdampak.

“Kami menuntut percepatan pencairan agar tidak ada lagi keluarga yang terpaksa menunda pembayaran listrik atau kehilangan mata pencaharian,” ujar Ustadz Ahmad Zaini dalam rapat tersebut. Ia menambahkan bahwa proses verifikasi data korban harus dilakukan secara akurat namun tidak berlarut‑larut.

Seorang penyintas bernama Fatimah, 38 tahun, mengungkapkan keprihatinannya bahwa hingga kini dana bantuan belum masuk ke rekeningnya, padahal usaha kecilnya di bidang menjahit masih belum pulih. “Setiap hari kami berjuang untuk mendapatkan makanan, dan bantuan jatah hidup sangat kami tunggu,” kata Fatimah dengan nada harap.

Pemerintah Provinsi Aceh melalui Dinas Sosial menyatakan komitmen untuk menyalurkan dana dalam tiga tahap, yakni tahap awal pada akhir April, tahap lanjutan pada pertengahan Mei, dan tahap akhir pada akhir Juni 2024. Penyaluran dilakukan melalui transfer bank dan layanan uang elektronik.

Implementasi tahap pertama dijadwalkan pada 28 April 2024, namun terdapat kendala teknis pada sistem perbankan yang menunda pencairan selama tiga hari. Meskipun demikian, pihak Dinas Sosial menegaskan bahwa semua penerima yang telah terverifikasi akan menerima dana paling lambat 5 Mei 2024.

Distribusi bantuan menghadapi tantangan verifikasi data karena banyak korban kehilangan dokumen identitas akibat banjir. Untuk mengatasi hal ini, PCNU bersama lembaga bantuan lokal menyediakan layanan pendataan darurat di posko-posko bantuan.

Beberapa LSM daerah, seperti Yayasan Peduli Bencana Aceh, turut membantu mengumpulkan data dan menyiapkan paket bantuan tambahan berupa sembako dan perlengkapan kebersihan. Kolaborasi ini diharapkan dapat menutup kekosongan sementara sebelum bantuan jatah hidup cair.

Secara ekonomi, banjir menyebabkan penurunan pendapatan rata‑rata keluarga sebesar 45 % dibandingkan sebelum bencana, terutama bagi petani padi dan nelayan yang kehilangan lahan serta peralatan. Bantuan tunai diharapkan dapat menstimulasi konsumsi lokal dan mempercepat pemulihan pasar tradisional.

Ketersediaan dana tunai secara cepat menjadi faktor krusial untuk menghindari krisis gizi dan penurunan kualitas hidup. Penelitian singkat oleh Universitas Syiah Kuala menunjukkan bahwa rumah tangga yang menerima jatah hidup dalam 30 hari pertama memiliki tingkat pemulihan ekonomi 20 % lebih tinggi.

Hingga 2 Mei 2024, Dinas Sosial melaporkan bahwa 3.600 rekening telah berhasil ditransfer, sementara sisanya masih dalam proses verifikasi akhir. Pemerintah menargetkan pencairan total 100 % pada akhir Mei.

PCNU Aceh Utara kembali menekankan pentingnya percepatan proses verifikasi dan pencairan dana, serta mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memberikan dukungan moral kepada korban. “Tidak hanya uang, tetapi kepedulian bersama akan mempercepat bangkitnya daerah,” tuturnya.

Situasi terkini menunjukkan sebagian besar posko bantuan kini beroperasi normal, dengan distribusi sembako harian yang telah mencapai 85 % kebutuhan warga. Namun, beberapa wilayah terpencil masih mengalami keterbatasan akses jalan karena lumpur tebal.

Pemerintah provinsi berencana melakukan survei lanjutan pada minggu depan untuk mengevaluasi efektivitas bantuan dan menyesuaikan strategi distribusi di daerah yang masih tertinggal. Hasil survei akan menjadi acuan dalam penetapan prioritas bantuan selanjutnya.

Dengan harapan bantuan jatah hidup segera cair, penyintas dan tokoh masyarakat menanti kepastian agar proses pemulihan ekonomi dapat berjalan berkesinambungan dan mengembalikan kehidupan normal di Aceh Utara.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.