Media Kampung – 16 April 2026 | Rahasia durian Indonesia rebut pasar China Rp137 triliun terbongkar menjadi sorotan utama ekonomi agrikultural negara, menandai lonjakan nilai ekspor buah eksotis ini pada kuartal pertama 2024.

Data resmi Kementerian Perdagangan mencatat nilai ekspor durian mencapai US$9,3 miliar, setara Rp137 triliun, meningkat 38 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, didorong oleh permintaan konsumen premium di wilayah Shanghai dan Guangdong.

Peningkatan tersebut didukung oleh program pemerintah yang mengalokasikan dana Rp3 triliun untuk modernisasi kebun, sertifikasi GlobalG.A.P., dan pelatihan petani dalam teknik budidaya intensif berkelanjutan.

Selain investasi infrastruktur, logistik ekspor diperkuat melalui pembangunan pelabuhan khusus durian di Pelabuhan Tanjung Perak, yang memungkinkan pengiriman suhu terkendali dengan waktu transit rata-rata tiga hari.

Menurut Budi Santoso, Direktur Ekspor Buah Tropis PT Agro Nusantara, “Kualitas buah yang terjaga sejak pemanenan hingga pengiriman menjadi kunci utama kepercayaan pembeli China, sehingga margin keuntungan petani naik hingga 25 persen.”

Kualitas tersebut tercermin dari peningkatan persentase buah yang lolos standar mutu internasional, dari 68 persen pada 2022 menjadi 84 persen pada akhir 2023, berkat penggunaan pupuk organik dan teknik pemangkasan selektif.

Penelitian Universitas Bogor menunjukkan bahwa durian Musang King yang diproduksi di Jawa Barat memiliki kandungan gula rata-rata 21,5 gram per 100 gram, memenuhi selera pasar China yang mengutamakan rasa manis dan aroma kuat.

Pasar China sendiri mengalokasikan lebih dari 30 juta ton buah segar setiap tahun, dimana durian menempati posisi keempat setelah apel, jeruk, dan anggur, membuka peluang nilai tambah bagi produsen Indonesia.

Pemerintah provinsi Jawa Barat menandatangani kontrak pasokan jangka panjang dengan tiga distributor besar di Shanghai, masing‑masing menambah volume 1.200 ton per bulan, mengamankan pendapatan stabil bagi ribuan petani lokal.

Sementara itu, kebijakan tarif rendah yang diterapkan China sejak 2021 menurunkan bea masuk durian dari 15 persen menjadi 5 persen, memperbesar margin keuntungan importir dan menurunkan harga jual akhir bagi konsumen.

Analisis Bloomberg memperkirakan nilai pasar durian China akan melampaui US$30 miliar pada 2025, dengan pertumbuhan tahunan rata‑rata 12 persen, sejalan dengan tren konsumsi buah eksotis di kalangan kelas menengah ke atas.

Di sisi lain, tantangan tetap ada, termasuk fluktuasi iklim monsun yang dapat mempengaruhi produksi, serta persaingan dari produsen Malaysia dan Thailand yang terus meningkatkan standar kualitas mereka.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Kementerian Pertanian meluncurkan program asuransi tanaman berbasis digital, yang menanggung hingga 80 persen kerugian akibat cuaca ekstrem, memastikan keberlanjutan produksi.

Sejak peluncuran program pada Januari 2024, lebih dari 12.000 petani telah mendaftar, dengan total klaim yang berhasil dibayarkan mencapai Rp450 miliar, menegaskan dukungan pemerintah terhadap stabilitas pendapatan sektor pertanian.

Dengan semua faktor tersebut, prospek durian Indonesia di pasar China tetap menguat, dan para pelaku industri menargetkan nilai ekspor mencapai Rp150 triliun pada akhir 2025, menandai era baru bagi agribisnis nasional.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.