Media Kampung – PT Angkasa Pura Indonesia mengumumkan bahwa mereka tidak lagi akan mengoperasikan Bandara Dhoho Kediri setelah menandatangani perjanjian pengakhiran kerja sama operasi (KSO) dengan PT Surya Dhoho Investama. Direktur Operasi PT Angkasa Pura Indonesia, Agus Hariyadi, menjelaskan bahwa keputusan ini diambil berdasarkan permintaan dari PT Surya Dhoho Investama yang ingin mengembangkan bandara tersebut secara mandiri.
Agus menegaskan bahwa pengakhiran kerja sama ini tidak disebabkan oleh wanprestasi dari salah satu pihak. Ia memastikan bahwa kedua perusahaan telah memenuhi semua ketentuan yang disepakati dalam perjanjian awal. Namun, Agus juga mengakui bahwa Bandara Dhoho masih menghadapi beberapa tantangan, termasuk volume lalu lintas penerbangan yang belum maksimal.
“Secara jujur, lalu lintas di bandara ini belum maksimal, terutama di tengah kondisi industri penerbangan yang mengalami depresiasi akibat berbagai faktor, terutama geopolitik,” ujar Agus, saat ditemui dalam acara Lokakarya Forum Wartawan Perhubungan di Bandung, Jawa Barat.
Ia menambahkan bahwa ketegangan geopolitik global telah mempengaruhi harga bahan bakar pesawat, yang pada gilirannya berdampak pada biaya operasional maskapai dan tingkat lalu lintas penerbangan.
Menyusul keluarnya PT Angkasa Pura dari Bandara Dhoho, Agus mencatat bahwa per 1 Oktober 2026, perusahaan kini mengelola 36 bandara di seluruh Indonesia. Penandatanganan Perjanjian Pengakhiran KSO antara PT Angkasa Pura Indonesia dan PT Surya Dhoho Investama dilakukan pada 31 Agustus 2026, dan mencakup penyelesaian hak dan kewajiban kedua belah pihak, pelaksanaan masa transisi, serta penyerahan dokumen dan aset.
Kementerian Perhubungan juga menegaskan bahwa pengakhiran KSO ini tidak mempengaruhi status operasional Bandara Dhoho Kediri, yang tetap menjadi bagian dari sistem transportasi udara nasional dengan pengelolaan yang kini beralih ke PT Surya Dhoho Investama, sesuai dengan keputusan resmi yang dikeluarkan pada 25 September 2026.













