Media Kampung – Di Makam Gus Dur yang terletak di Jombang, sebuah momen toleransi yang unik terjadi ketika doa lintas iman dilakukan secara bersamaan. Kegiatan tersebut memperlihatkan betapa keberagaman agama dan kepercayaan dapat hidup berdampingan dengan damai di tempat yang menjadi simbol pluralisme ini.
Dalam peristiwa tersebut, Abdurrohim dan Sriyatin membacakan tahlil di makam Gus Dur, sementara seorang biksu dari Asia Tenggara turut berdoa bersama. Kehadiran biksu tersebut menegaskan komitmen terhadap nilai-nilai toleransi dan saling menghormati antar umat beragama yang dianut oleh masyarakat di sekitar Pondok Pesantren Tebuireng.
Peristiwa ini menjadi bukti nyata bahwa makam Gus Dur bukan hanya menjadi tempat ziarah bagi umat Islam, melainkan juga ruang terbuka bagi semua kalangan untuk berdoa sesuai keyakinan masing-masing tanpa ada diskriminasi. Aktivitas doa lintas agama ini mencerminkan semangat kebersamaan dan penghargaan terhadap keberagaman yang selama ini diwariskan oleh almarhum Gus Dur.
Konsep hidup berdampingan secara harmoni yang ditunjukkan di makam ini sejalan dengan ajaran Gus Dur yang dikenal luas sebagai tokoh pluralisme dan perdamaian. Momen doa bersama ini juga mendapat perhatian positif dari masyarakat luas sebagai contoh nyata bagaimana perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk saling menghormati dan bekerja sama.
Hingga saat ini, makam Gus Dur tetap menjadi destinasi penting bagi banyak orang yang ingin mengenang dan menghayati nilai-nilai toleransi yang diajarkan oleh Gus Dur. Kegiatan doa lintas iman di makam ini terus menjadi simbol kuat pluralisme yang mampu menyatukan beragam komunitas di Jombang dan sekitarnya.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan