Media Kampung – Peringatan May Day Jember digelar dengan tasyakuran damai di Pendopo Wahyawibawagraha, Kabupaten Jember, pada Jumat 1 Mei 2026 tanpa aksi protes. Acara tersebut menandai peringatan Hari Buruh Internasional secara kondusif.
Sekretaris Panitia May Day sekaligus Ketua DPC Sarbumusi Jember, Umar Faruk, menyampaikan kepada RRI bahwa seluruh agenda telah disepakati dalam rapat-rapat sebelumnya. Ia menegaskan bahwa tidak ada demonstrasi jalanan yang direncanakan.
Lokasi tasyakuran dipilih di Pendopo Wahyawibawagraha karena kapasitasnya yang dapat menampung ratusan peserta. Kegiatan dimulai dengan sambutan resmi, diikuti dengan musik tradisional dan penyampaian pesan solidaritas.
Acara melibatkan unsur pemerintah daerah, pengusaha lokal, serta perwakilan serikat pekerja. Kehadiran mereka mencerminkan upaya bersama untuk merayakan hak buruh tanpa konflik.
“Kami memutuskan dua agenda utama, yaitu tasyakuran di Pendopo dan jalan sehat, demi menjaga suasana kondusif,” ujar Umar Faruk dalam wawancara. Ia menambahkan bahwa keputusan tersebut diambil setelah konsultasi intensif.
Secara internal, Serikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) Jember menggelar tasyakuran pada Kamis 30 April 2026 malam sebagai bagian refleksi Hari Buruh. Acara internal ini bersifat sukarela dan diinisiasi oleh anggota serta pengurus.
Estimasi kehadiran pada tasyakuran internal mencapai sekitar 250 orang, meliputi aktivis, pekerja, dan tokoh masyarakat. Jumlah tersebut menunjukkan antusiasme tinggi dalam memperingati May Day Jember.
“Hari Buruh bukan hanya sekadar selebrasi, melainkan refleksi atas ketidakadilan yang selama ini menimpa rakyat dan pekerja, khususnya di Jember,” ujar Faruk. Pernyataan ini menegaskan dimensi kritis peringatan tersebut.
Koordinasi keamanan dilakukan dengan kepolisian setempat serta penyusunan Satgas Black Force internal. Langkah ini bertujuan memastikan kelancaran acara tanpa gangguan.
Satgas Black Force bertugas mengawasi keamanan internal, sementara pihak kepolisian dipanggil sebagai pendukung resmi. Kedua elemen tersebut bekerja selaras untuk menciptakan lingkungan aman.
“May Day tetap menjadi ruang menyuarakan aspirasi buruh, terutama terkait kesejahteraan dan kebijakan ketenagakerjaan,” kata Faruk. Ia menekankan pentingnya dialog konstruktif antara pekerja dan pemerintah.
Kondisi buruh di Jember masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan lapangan kerja dan kebijakan yang belum sepenuhnya pro‑pekerja. Situasi ini memicu kebutuhan akan advokasi berkelanjutan.
Perubahan Undang‑Undang Ketenagakerjaan menjadi Omnibus Law dirasa menambah beban bagi pekerja. Kritik muncul terkait kurangnya perlindungan hak-hak dasar dalam regulasi baru.
“Kami melihat ketidaksesuaian antara kebijakan efisiensi dengan realita di lapangan, sehingga perubahan harus dimulai dari pusat dan diikuti oleh daerah,” ujar Faruk. Pendapat ini menggarisbawahi pentingnya kebijakan terintegrasi.
Pihak penyelenggara berharap pemerintah pusat memberikan perhatian lebih pada kesejahteraan buruh. Harapan tersebut mencakup peningkatan upah, jaminan sosial, dan regulasi yang adil.
Agenda lanjutan meliputi jalan sehat yang dijadwalkan pada Minggu 3 Mei 2026. Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat solidaritas fisik dan mental antarburuh.
Jalan sehat akan melintasi beberapa titik penting di Kabupaten Jember, mengajak warga berpartisipasi dalam gerakan kebugaran bersama. Rute tersebut dipilih agar dapat menampilkan pemandangan lokal.
Secara nasional, May Day dirayakan setiap 1 Mei sebagai simbol perjuangan kelas pekerja. Di banyak daerah, peringatan ini diiringi aksi demonstrasi, namun Jember memilih pendekatan damai.
Pihak kepolisian menegaskan tidak ada rencana penanganan massa karena tidak ada protes jalanan yang direncanakan. Keputusan ini mencerminkan iklim keamanan yang relatif stabil.
Hingga akhir pekan, tasyakuran dan persiapan jalan sehat berlangsung lancar tanpa insiden. Panitia melaporkan respons positif dari peserta dan masyarakat.
Dengan demikian, May Day Jember berhasil menyatukan elemen pemerintah, pengusaha, dan serikat pekerja dalam perayaan yang bersifat reflektif dan produktif. Keberhasilan ini diharapkan menjadi contoh bagi peringatan serupa di wilayah lain.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan