Media Kampung – Ketua DPP PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo, angkat bicara menanggapi tudingan yang menghubungkan tim pemenangannya dengan aksi yang digerakkan oleh eks Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto. Dalam pernyataannya, Ganjar menegaskan bahwa kritik harus dijawab dengan data, bukan dengan pelabelan yang justru mengaburkan substansi persoalan.

Tudingan tersebut dilontarkan oleh Aliansi BEM Bersatu dalam konferensi pers pada Selasa, 16 Juni 2026. Perwakilan mereka, Rahmat Djimbula, mengaitkan Tiyo Ardianto dengan jaringan politik tertentu. Salah satu indikasinya adalah kendaraan Fortuner yang digunakan Tiyo terdaftar atas nama Siti Nuraeni, yang disebut sebagai adik Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso—besan dari Jenderal TNI (Purn) Andhika Perkasa, tokoh tim pemenangan Ganjar pada Pilpres 2024. Selain itu, kehadiran politikus PDIP Andi Widjajanto di tengah massa aksi juga disebut sebagai penguat dugaan tersebut.

Menanggapi hal ini, Ganjar menyayangkan upaya mengaitkan aktivis kritis dengan kubu politik tertentu. Menurutnya, cara seperti itu justru menghindari substansi persoalan yang seharusnya dijawab dengan data dan kebijakan. "Kalau ada kritik, jawab dengan data. Kalau ada masukan, respons dengan kebijakan. Jangan membangun narasi seolah-olah hanya pendukung pemerintah yang boleh berbicara, sementara yang kritis pasti dianggap lawan politik," ujar Ganjar pada Rabu, 17 Juni 2026.

Ganjar juga menantang Aliansi BEM Bersatu untuk membuka data secara transparan jika memiliki bukti yang kuat. Ia menegaskan bahwa pelabelan tanpa data hanya akan memperkeruh suasana dan mengalihkan perhatian dari isu-isu aktual yang seharusnya menjadi fokus.

Hingga saat ini, belum ada tanggapan lebih lanjut dari pihak Aliansi BEM Bersatu terkait pernyataan Ganjar. Sementara itu, Tiyo Ardianto sendiri belum memberikan klarifikasi resmi atas tudingan yang dialamatkan kepadanya.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.