Media Kampung – 14 April 2026 | Perdana Menteri Hungaria Viktor Orbán kehilangan jabatan setelah 16 tahun memimpin, usai partai oposisi Tisza yang dipimpin Péter Magyar meraih mayoritas suara dalam pemilihan umum 12 April 2026.

Hitung sementara menunjukkan Tisza menguasai 98,94% suara terhitung, memproyeksikan 135 dari 199 kursi parlemen, sementara koalisi Fidesz‑Orbán diperkirakan hanya memperoleh 57 kursi.

Orbán mengakui kekalahan di kantor kampanye Fidesz, menyatakan, “Saya mengucapkan selamat kepada pemenang,” dan menegaskan partainya tidak akan memegang tanggung jawab pemerintahan.

Péter Magyar menyambut kemenangan dengan semangat, mengutip, “Malam ini, kebenaran menang atas kebohongan,” menambah niatnya memperbaiki hubungan dengan Uni Eropa, memerangi korupsi, dan meningkatkan layanan publik.

Magyar, mantan anggota Fidesz, mengundurkan diri pada 2024 setelah skandal pengampunan yang menodai citra pemerintah, kemudian memimpin partai Tisza yang sebelumnya kurang dikenal.

Kampanyenya menitikberatkan pada penurunan biaya hidup, reformasi layanan kesehatan, dan transparansi keuangan, sambil menghindari retorika anti‑LGBTQ dan kebijakan luar negeri yang kontroversial.

Reaksi internasional muncul cepat; Ursula von der Leyen menulis di X bahwa Hungaria “memilih Eropa,” sementara Presiden Jerman Friedrich Merz menyatakan menantikan kerja sama dengan pemerintahan baru.

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengucapkan selamat melalui pesan pribadi, dan Perdana Menteri Polandia Donald Tusk menulis, “Bersatu kembali! Kemenangan gemilang, teman-teman!” di media sosial.

Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance, yang beberapa hari sebelum pemilu mengunjungi Budapest untuk mendukung Orbán, belum memberikan komentar, sedangkan Donald Trump tetap diam.

Dengan mayoritas 135 kursi, Tisza memiliki kekuatan untuk mengamandemen konstitusi, mengembalikan independensi peradilan, dan menegosiasikan ulang kebijakan fiskal yang sebelumnya dipengaruhi oleh Orbán.

Magyar berjanji mengalokasikan dana yang sebelumnya disalahgunakan untuk memperbaiki infrastruktur, pendidikan, dan layanan kesehatan, serta mengaktifkan kembali bantuan Uni Eropa yang sempat ditolak.

Namun, ia menghadapi tantangan mempersatukan masyarakat yang terpolarisasi, mengelola ekspektasi pemilih, dan menyeimbangkan hubungan dengan Amerika Serikat serta sekutu Eropa.

Saat ini, Orbán telah resmi menjadi anggota oposisi, menyiapkan pernyataan politik baru, sementara proses transisi pemerintahan sedang berlangsung di Budapest.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.