Media Kampung – 12 April 2026 | Empat anak Try Sutrisno menegaskan bahwa keluarga tidak menerima pengawalan berlebih maupun fasilitas khusus, menegaskan prinsip “tidak ada privilege” yang diajarkan oleh sang ayah sejak masa jabatan wakil presiden.
Nori Chandrawati, anak keempat, mengungkap bahwa ayahnya pernah berkata, “Anak saya tujuh, mati satu saya masih punya enam,” sebagai contoh sikap realistis terhadap hidup.
Selama menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia (1993-1998), Try Sutrisno kerap menerima tawaran resmi untuk menambah pengamanan, namun keluarga tetap menolak.
Ketika akhirnya menerima satu pengawal, Nori membatasi secara tegas hanya satu orang, menolak tim keamanan yang berjumlah enam orang seperti yang pernah ditawarkan.
Dalam aktivitas harian, Nori memilih naik bersama sopir kendaraan ayahnya, menunggu hingga mobil berhenti, lalu turun bersama sopir, menolak perlakuan istimewa.
“Kalau begitu saya ikut ke tempat sopir dulu, bareng parkir dulu, baru turun bareng-bareng,” ujarnya, meniru kata ayahnya yang menekankan kemandirian.
Taufik Dwi Cahyono, anak kedua, menambahkan bahwa tekanan publik terhadap anak tokoh besar tidak ringan, meski ia telah menempuh pendidikan terbaik.
Ia mencatat bahwa nama besar ayahnya tetap menjadi bayang‑bayang, namun tidak menghalangi ia untuk menapaki jalan yang berbeda.
Taufik menyebut bahwa filosofi ayahnya mengajarkan ketahanan, dengan contoh, “Jika kamu berjalan di jalan yang lurus, kamu harus berjalan di bebatuan, kadang‑kadang berlumpur.”
“Kadang‑kadang berlumpur, ya pakai ransel lagi,” tambahnya, menekankan pentingnya menghadapi rintangan.
Try Sutrisno secara tegas melarang pemberian fasilitas kepada anak‑anaknya selama menjabat, menyatakan, “Jangan pernah kasih anak‑anak saya apapun selama saya di sini.”
Contoh nyata muncul ketika keluarga menolak penggunaan kendaraan dinas khusus atau penginapan mewah selama kunjungan resmi.
Dalam budaya politik Indonesia, ekspektasi nepotisme sering muncul, namun keluarga Try Sutrisno menunjukkan pola berbeda dengan menolak segala bentuk keistimewaan.
Rekaman pendek dari Kompas TV menyoroti pernyataan Nori dan Taufik, yang kemudian viral di media sosial sebagai contoh integritas keluarga pejabat.
Respons publik beragam; sebagian memuji sikap rendah hati, sementara yang lain menilai keputusan tersebut sebagai langkah berisiko dalam konteks keamanan.
Try Sutrisno meninggal pada 2 Maret 2026; meski demikian, nilai-nilai yang ia tanam terus dijaga oleh anak‑anaknya.
Meski tidak lagi berada di panggung politik, Nori dan Taufik tetap menjalani kehidupan pribadi tanpa mengandalkan fasilitas khusus, memperkuat warisan ayahnya.
Keluarga terus menjaga prinsip tanpa privilege, menegaskan bahwa integritas dan kemandirian tetap menjadi landasan utama dalam setiap langkah mereka.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan