Media Kampung – Bangkalan – Seorang guru asal Lumajang, Prista Aziza Rahmi, kini menjadi motor penggerak di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 51 Bangkalan. Bergabung sejak 30 September 2025, ia dipercaya sebagai Wakil Kepala Kurikulum dan langsung menghadapi tantangan besar: membangun fondasi pendidikan bagi anak-anak yang sebagian besar belum mengenal huruf, putus sekolah karena ekonomi, dan perlu dibentuk perilakunya dari nol.
Perjuangan di Tengah Keterbatasan
Prista, yang sebelumnya bertugas di SMP Negeri 2 Pasirian, Lumajang, dan menempuh Pendidikan Profesi Guru (PPG) di UNESA jurusan Bimbingan dan Konseling, mengikuti rekrutmen guru sekolah rakyat. Di SRT 51, ia menemukan kondisi yang jauh dari ideal. Banyak siswa yang harus diingatkan untuk makan, namun kini perlahan mereka mulai disiplin mengikuti jadwal. Jumlah siswa mencapai 82 orang, dengan 42 siswa SMP dan 40 siswa SD. Keterbatasan ruang kelas memaksa guru SD mengajar kelas rangkap dari kelas 1 hingga 6.
Momen Menyentuh yang Menguatkan
Meski penuh tantangan, ada momen yang tak terlupakan. Saat menjaga ujian, seorang siswa SMP yang belum bisa membaca menyatakan keinginannya belajar langsung dengan Prista. “Itu membuat saya tersentuh. Meski belum bisa, mereka punya motivasi tinggi agar bisa setara dengan teman-temannya,” ujarnya kepada RRI.co.id pada Rabu, 24 Juni 2026. Baginya, tagline SRT ‘Cerdas Bersama, Tumbuh Setara’ bukan sekadar slogan, melainkan semangat nyata yang dihidupkan setiap hari.
Harapan Baru Pendidikan Anak Istimewa
Prista hadir sebagai pendidik yang menyalakan harapan baru bagi anak-anak istimewa di SRT 51 Bangkalan. Dengan latar belakang bimbingan dan konseling, ia berupaya membentuk karakter dan motivasi belajar siswa, meski dalam keterbatasan sarana. Kisahnya menjadi bukti bahwa dedikasi seorang guru mampu mengubah masa depan anak-anak yang terpinggirkan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan