Media Kampung – Siswa SMK kelas dua di Samarinda, Kalimantan Timur, Mandala Rizky Syaputra (16) meninggal pada 24 April 2026 setelah mengalami komplikasi kesehatan yang diduga dipicu oleh sepatu sekolah yang terlalu kecil.
Mandala menggunakan sepatu ukuran 43 sejak kelas satu, namun pertumbuhan kakinya menuntut ukuran 45; ia tetap memakai sepatu lama karena tidak mampu membeli yang baru.
Kaki Mandala membengkak secara drastis, menimbulkan rasa sakit, kehilangan nafsu makan, dan pada akhirnya menyebabkan kegagalan organ saat ia tertidur.
Keluarga Mandala hidup dalam keterbatasan ekonomi; ibunya, Ratnasari, berjualan risoles keliling dan menanggung beban tiga adik sekaligus menjaga keperluan hidup sehari-hari.
Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, menyatakan kasus ini menjadi alarm keras bagi sistem pendidikan nasional untuk lebih memperhatikan kesejahteraan peserta didik secara menyeluruh.
“Kasus meninggalnya siswa karena sepatu kekecilan menegaskan bahwa sekolah harus memiliki mekanisme deteksi dini terhadap kondisi kesehatan dan sosial siswa,” ujar Lalu dalam wawancara pada Selasa (5/5).
Lalu menambahkan bahwa masalah tersebut mencerminkan kerentanan ekonomi keluarga yang menghambat akses ke perlengkapan dasar dan layanan kesehatan tepat waktu.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menekankan pentingnya data akurat agar bantuan pemerintah tepat sasaran, sehingga tragedi serupa dapat dicegah.
“Data yang valid memungkinkan intervensi dini, misalnya penyediaan sepatu sekolah yang sesuai ukuran bagi anak-anak yang membutuhkan,” kata Gus Ipul di Kantor Kementerian Sosial.
Ia juga menyoroti program Sekolah Rakyat dan Unit Kesehatan Sekolah (UKS) sebagai upaya lintas sektor yang harus diperkokoh untuk melindungi kesehatan pelajar.
Komentar keluarga Mandala menambah urgensi; Ratnasari mengaku tidak memiliki dana untuk membeli sepatu baru dan hanya dapat menambah busa pelindung yang ternyata memperparah kondisi.
Pihak berwenang telah membuka penyelidikan medis untuk memastikan hubungan kausal antara penggunaan sepatu kekecilan dan pembengkakan fatal, sekaligus mengevaluasi kebijakan penyediaan perlengkapan sekolah di daerah miskin.
Jika rekomendasi Komisi X dan Kementerian Sosial diadopsi, diharapkan semua sekolah di Indonesia memiliki prosedur pemantauan rutin terhadap kesehatan fisik dan kebutuhan dasar siswa, sehingga kasus serupa tidak terulang kembali.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan