Media Kampung – Demo Hardiknas BEM SI berlangsung di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat pada Sabtu 2 Mei 2026, menandai aksi massa mahasiswa yang menuntut perbaikan sistem pendidikan nasional. Demonstrasi ini menjadi sorotan utama karena bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional.

Ratusan mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia berkumpul sejak pukul 15.30 WIB di depan Gedung Perpustakaan Nasional, kemudian melakukan long march menuju Patung Kuda. Mereka mengenakan almamater masing‑masing dan membawa spanduk serta poster yang menyoroti krisis akses dan kualitas pendidikan.

Setibanya di Patung Kuda sekitar pukul 15.45 WIB, massa menyiapkan mobil komando berbalut bendera merah putih dengan tulisan “Suara Rakyat”. Dari mobil tersebut, para orator menyampaikan orasi yang menekankan pentingnya reformasi tata kelola anggaran pendidikan dan penghentian komersialisasi berlebihan.

Seorang juru bicara BEM SI menegaskan, “Sejak awal kami mau menggelar aksi di Istana, kami yakin jika tidak di depan Istana suara kami tidak akan terdengar oleh Presiden Prabowo”. Pernyataan tersebut mencerminkan keinginan mahasiswa untuk menjangkau keputusan tertinggi pemerintah.

Polisi menutup sebagian Jalan Merdeka Selatan dengan water barrier di persimpangan Tugu Patung Kuda, mengalihkan arus lalu lintas ke Jalan Kebon Sirih dan Jalan H. Agus Salim. Meskipun demikian, sebagian motor masih mencoba menembus penghalang demi mencapai Balai Kota.

Di sisi lain, aksi Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) berlangsung bersamaan di area yang sama, menciptakan dua barisan massa yang saling bersahutan dalam orasi masing‑masing. Kedua kelompok menekankan bahwa pendidikan harus menjadi prioritas utama dalam agenda pembangunan nasional.

Mahasiswa BEM SI menyampaikan sepuluh tuntutan utama, termasuk reformasi anggaran pendidikan, pemisahan dana pendidikan publik dan kedinasan, serta peningkatan kesejahteraan guru. Mereka juga menuntut penyelesaian status guru honorer secara adil, transparan, dan bermartabat.

Selain tuntutan struktural, aksi juga menyoroti program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dianggap mengalihkan fokus pemerintah dari pendidikan. Salah satu spanduk berbunyi, “MBG Dikebut, Pendidikan Dikalang Kabut”, menegaskan kritik tersebut.

Polisi mengizinkan massa untuk melakukan orasi di atas mobil komando, namun tetap menegakkan pembatasan area aksi di sekitar Patung Kuda. Pengamanan dilakukan secara ketat untuk menghindari bentrokan antara massa dan aparat.

Selama aksi, massa menyanyikan lagu Indonesia Raya dan lagu perjuangan seperti “Buruh Tani” serta yel‑yel Totalitas Perjuangan, menambah atmosfer semangat nasionalisme. Kegiatan ini berlangsung damai setelah perwakilan universitas dipanggil naik untuk menyampaikan pernyataan resmi.

Transportasi publik mengalami gangguan sementara, dengan jalur TransJakarta mengalihkan rute dan penumpang diminta mencari alternatif. Pihak transportasi menginformasikan bahwa penutupan jalan diperkirakan selesai setelah aksi selesai pada sore hari.

Kondisi lapangan tetap kondusif menjelang akhir aksi, dengan massa tetap berada di Patung Kuda dan belum ada laporan penangkapan massal. Aparat keamanan menegaskan kesiapan mereka untuk mengantisipasi situasi jika terjadi eskalasi.

Hingga penutupan laporan, demo Hardiknas BEM SI masih berlangsung dan massa tetap menunggu respons resmi pemerintah atas sepuluh tuntutan yang telah disampaikan. Semua pihak diharapkan dapat melanjutkan dialog konstruktif demi perbaikan sistem pendidikan nasional.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.