Media Kampung – Hardiknas 2026 digelar di Jember dengan fokus pada kesetaraan madrasah dan kesejahteraan tenaga pendidik, sebagaimana ditekankan oleh Bupati Gus Fawait. Acara talkshow bertajuk Transformasi Pendidikan Berbasis Cinta Anak menjadi wadah refleksi dan strategi peningkatan mutu pendidikan di daerah.
Talkshow diselenggarakan pada Sabtu, 2 Mei 2026, di salah satu sekolah negeri di Kabupaten Jember, menggantikan tradisi upacara di alun‑alun. Pemilihan lokasi sekolah dimaksudkan memberi kenyamanan bagi guru, siswa, dan orang tua.
Sekitar 350 peserta hadir, meliputi kepala sekolah, pengawas, penilik pendidikan, serta Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO. Kehadiran mereka menunjukkan dukungan lintas sektor terhadap agenda pendidikan daerah.
“Bupati hari ini adalah lulusan madrasah. Artinya, semua anak punya kesempatan yang sama untuk berhasil. Tidak boleh lagi ada lembaga pendidikan yang dipandang sebelah mata,” tegas Gus Fawait.
Dalam sambutannya, Gus Fawait menambahkan, “Saya tahu, Bapak/Ibu kalau di alun‑alun itu menunduk bukan karena terharu mendengar sambutan saya, tapi karena kepanasan,” yang memicu tawa peserta.
Ia menegaskan bahwa pelaksanaan Hardiknas di sekolah memberi ruang interaksi langsung antara pendidik dan murid, serta mengurangi hambatan logistik. Pendekatan ini diharapkan memperkuat rasa kebersamaan dalam komunitas pendidikan.
Selain kurikulum, Gus Fawait menyoroti pentingnya kesejahteraan ASN dan tenaga pendidik sebagai faktor utama peningkatan kualitas belajar mengajar. Ia menekankan bahwa motivasi guru sangat dipengaruhi oleh kepastian pendapatan dan jaminan kerja.
Pemerintah Kabupaten Jember berkomitmen menjaga Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) dan mempercepat proses pengangkatan PPPK bagi tenaga pendidik yang memenuhi syarat. Langkah ini diharapkan menutup kesenjangan remunerasi antara guru negeri dan swasta.
Sebagai bagian dari kebijakan baru, ASN diminta turun langsung ke lapangan untuk melakukan verifikasi dan validasi data kemiskinan peserta didik. Proses verval ini dianggap penting untuk menyalurkan bantuan secara tepat sasaran.
Gus Fawait menggambarkan kebijakan tersebut sebagai “pahit tapi menyehatkan”, mengingat kebijakan yang terlalu lunak dapat menimbulkan ketergantungan. Ia menambah, “Kalau manis terus, bisa kena diabetes. Harus ada yang pahit agar bantuan efektif dan tepat sasaran.”
Melalui momentum Hardiknas 2026, diharapkan sinergi antara pemerintah, tenaga pendidik, dan masyarakat semakin solid. Kolaborasi ini ditujukan membangun ekosistem pendidikan yang inklusif, berkeadilan, dan berlandaskan kasih sayang.
Hardiknas sebelumnya di Jember sering diadakan di alun‑alun kota, namun perubahan ini mencerminkan evolusi kebijakan yang lebih berorientasi pada kebutuhan siswa. Kebijakan tersebut selaras dengan program nasional untuk meningkatkan kualitas pendidikan di seluruh Indonesia.
Sejak acara tersebut, pemantauan rutin dilakukan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Jember untuk menilai pelaksanaan TPP, PPPK, dan verifikasi data kemiskinan. Hasil awal menunjukkan peningkatan kepuasan guru dan penurunan angka putus sekolah di beberapa wilayah.
Dengan komitmen berkelanjutan, Hardiknas 2026 menjadi titik tolak bagi Jember untuk mewujudkan pendidikan yang adil dan berkelanjutan bagi seluruh anak. Kepemimpinan Gus Fawait diharapkan menjadi contoh bagi daerah lain dalam mengintegrasikan nilai kesetaraan dan kesejahteraan pendidik.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan