Media Kampung – Keterbatasan Internet menjadi tantangan utama bagi dunia pendidikan di Bondowoso, terutama saat pelaksanaan Tes Kompetensi Akademik (TKA) pada akhir April 2026.

Di SDN Banyuwulu 2, delapan siswa mengikuti TKA secara daring, namun satu siswa tidak dapat menyelesaikan soal karena sinyal internet tidak stabil.

Nama siswa tersebut, Muhammad Riski, terpaksa mengulang ujian karena tidak dapat mengakses soal tepat waktu.

Guru Fauzan Adima menjelaskan, “Satu siswa kami tidak bisa menuntaskan ujian karena gangguan sinyal, sehingga harus diulang”.

Guru tersebut menambahkan bahwa sekolah hanya memiliki lima laptop guru, sementara tiga unit lainnya dipinjam dari luar.

Meski sudah disediakan jaringan Wi‑Fi, kualitas sinyal masih jauh dari memadai, kata Fauzan, “Sinyal lemah membuat siswa kesulitan mengakses soal online”.

Selain masalah jaringan, SDN Banyuwulu 2 belum memiliki laboratorium komputer yang lengkap; rencana pengadaan masih tertunda.

Fauzan menuturkan, “Kami masih menunggu bantuan Chromebook, sementara monitor besar yang kami terima kami pakai untuk pembelajaran”.

Kondisi fisik sekolah juga menghambat proses belajar, karena satu ruang kelas mengalami retak parah pada dinding atas akibat pergeseran pondasi.

Kepala sekolah Miskali mengungkapkan, “Kerusakan pondasi memaksa kami memindahkan kegiatan belajar ke laboratorium”.

Akses jalan ke sekolah masih sulit, dengan jalur berbatu dan tanjakan curam yang harus dilalui siswa setiap hari.

Miskali menambahkan, “Banyak siswa berjalan kaki ratusan meter hingga beberapa kilometer, sementara sebagian diantar orang tua”.

Pihak sekolah telah berupaya memperbaiki jaringan sebelum TKA, namun faktor geografis diyakini menjadi penyebab utama sinyal lemah.

Kepala sekolah menyimpulkan, “Mungkin karena kondisi geografis, sinyal tetap tidak stabil, dan kami masih menunggu solusi jangka panjang”.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.