Media Kampung – Ketua Umum Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK), Tri Tito Karnavian, menekankan pentingnya pencegahan perilaku kekerasan saat mengunjungi SMA Negeri 1 Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, pada Kamis 16 April 2026.

Kunjungan tersebut bertujuan menyelenggarakan sosialisasi perlindungan perempuan dan anak serta mengajak pelajar berperan aktif dalam mencegah segala bentuk kekerasan, baik verbal maupun fisik.

Tri menegaskan, “Paling tidak kalau bisa meredam satu, mencegah satu kekerasan, satu orang, ada 150 kasus yang bisa kita cegah,” menunjukkan potensi dampak luas dari upaya preventif.

Jika program pencegahan diterapkan di semua 514 kabupaten/kota Indonesia, diperkirakan setengah juta kasus kekerasan dapat dihindari, menurunkan beban sosial secara signifikan.

Program PKK yang dijalankan kali ini berfokus pada pembangunan karakter melalui edukasi isu-isu kekerasan yang masih marak di masyarakat, terutama di lingkungan keluarga dan sekolah.

Tri menyoroti bahwa masih banyak orang tua yang belum memiliki karakter yang sesuai harapan, sehingga diperlukan penguatan melalui sosialisasi dan pelatihan khusus.

Ia menambahkan bahwa budaya kekerasan tidak boleh merambah rumah, sekolah, maupun lingkungan sekitar, sehingga upaya pencegahan harus bersifat menyeluruh.

Karakter kuat, disiplin, jujur, dan bertanggung jawab disebutnya sebagai bekal penting bagi generasi muda dalam menghadapi tantangan sosial.

Istilah “generasi stroberi” digunakan untuk menggambarkan generasi yang rapuh, sensitif, dan mudah menyerah ketika dihadapkan pada tekanan mental.

Tri menegaskan, “Jangan menjadi generasi stroberi, harus menjadi generasi yang kuat. Yang dihempas apa pun, di tengah badai apa pun harus tetap kuat,” sebagai seruan kepada para pelajar.

PKK melibatkan siswa, guru, dan orang tua dalam serangkaian workshop interaktif yang menekankan teknik komunikasi non‑kekerasan dan resolusi konflik.

Setelah kegiatan, tim PKK akan melakukan monitoring dan evaluasi untuk menilai perubahan perilaku dan efektivitas intervensi di wilayah tersebut.

Pemerintah Kabupaten Belu serta Kementerian Dalam Negeri memberikan dukungan logistik dan kebijakan bagi pelaksanaan program pencegahan ini.

Tri berharap bahwa dengan sinergi semua pihak, angka kasus kekerasan dapat berkurang secara signifikan dalam dua tahun ke depan.

Program pencegahan akan dilanjutkan ke sekolah-sekolah lain di Nusa Tenggara Timur, memperluas jangkauan edukasi karakter dan perlindungan terhadap perempuan serta anak.

Keberhasilan pencegahan perilaku kekerasan bergantung pada kolaborasi seluruh elemen masyarakat, termasuk lembaga pendidikan, keluarga, dan instansi pemerintah.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.