Media Kampung – Saham GOTO turun drastis ke Rp50 per lembar, menimbulkan lonjakan jualan hingga jutaan lot pada sesi I perdagangan di Bursa Efek Indonesia. Pergerakan ini terjadi bersamaan dengan masuknya pemerintah sebagai pemegang saham minoritas, menambah ketegangan di pasar.

Pada pembukaan, saham GOTO sempat naik 2% menembus harga Rp51 sebelum akhirnya menurun dan tersengat di Rp50 hingga penutupan. Volume perdagangan mencapai 4,51 miliar lembar, setara dengan nilai transaksi Rp225,54 miliar. Jumlah perdagangan mencapai 41.732 transaksi, menunjukkan minat besar para investor.

Meskipun indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,5% menembus level 7.092,46, saham GOTO tetap stagnan di zona gocap. Hal ini menggambarkan ketidakseimbangan antara indeks pasar umumnya yang naik dan kinerja GOTO yang melemah.

Performa tahunan GOTO menunjukkan penurunan 21,88% pada tahun 2026, sekaligus mencatat net foreign sell sebesar Rp1,87 triliun. Data ini menegaskan tekanan keluar modal asing terhadap perusahaan yang beroperasi di sektor teknologi dan layanan digital.

Dapat diketahui bahwa Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) membeli saham GOTO dengan volume kurang dari 1% dari total saham beredar. Meskipun persentase kecil, keikutsertaan Danantara menambah dinamika kepemilikan perusahaan.

Pemerintah, sebagai pemegang saham minoritas, menandai potensi sinergi dengan Grab, yang telah lama dipertimbangkan sebagai partner strategis. Konteks ini menambah spekulasi pasar bahwa GOTO dapat mengejar merger atau aliansi lebih lanjut dengan Grab untuk memperkuat posisi kompetitifnya.

Struktur kepemilikan GOTO menunjukkan mayoritas publik yang memegang 76,61% saham. Penyebaran kepemilikan selanjutnya dipegang oleh SVF GT Subco Pte. Ltd. sebesar 7,65% dan Taobao China Holding Limited 7,43%. Selain itu, Telkomsel dan Astra International memiliki kepemilikan masing-masing 1,99% dan 1,56%.

GoTo, yang menggabungkan layanan Gojek dan Tokopedia, telah menjadi pemain utama di pasar e‑commerce dan ride‑hailing. Seiring dengan pertumbuhan platform, perusahaan terus mengevaluasi opsi aliansi strategis, termasuk potensi merger dengan Grab yang dapat memperluas jaringan layanan digital.

Seorang perwakilan Danantara menyatakan, “Danantara telah membeli saham GOTO.” Pernyataan ini menegaskan keterlibatan Danantara dalam struktur kepemilikan, meskipun dengan volume yang sangat terbatas.

Reaksi pasar memperlihatkan penjualan besar-besaran, dengan trader mengisi order jual pada harga Rp50. Antrean jual menembus jutaan lot, mencerminkan ketidakpastian investor terhadap prospek jangka panjang GOTO.

Keadaan saat ini menunjukkan bahwa saham GOTO masih berada di bawah tekanan jual, sementara potensi merger dan kepemilikan pemerintah menjadi faktor penting yang akan memengaruhi sentimen pasar ke depan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.