Media Kampung – Saham BMRI mengalami penurunan signifikan pada sesi I perdagangan tanggal 28 April 2026 setelah tercatat aksi jual bersih asing sebesar Rp202,38 miliar. Penurunan ini berkontribusi pada tekanan lebih luas terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Data Stockbit menunjukkan total aksi jual bersih di pasar reguler mencapai Rp3,47 triliun pada sesi pertama, dengan investor asing menyumbang Rp922,12 miliar. Di antara sekuritas perbankan, BMRI menjadi yang paling banyak dilepas, diikuti BBCA dan BBRI.

Investor asing juga menjual saham PT Bank Central Asia (BBCA) senilai Rp141,20 miliar dan PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) senilai Rp114,99 miliar. Penjualan ini mencerminkan sentimen hati-hati terhadap sektor perbankan besar Indonesia.

Secara keseluruhan, pasar mengalami outflow asing sekitar Rp2 triliun, menurunkan likuiditas dan memperlemah nilai rupiah. Pada saat yang sama, nilai tukar rupiah sempat menguat di bawah level Rp17.200 per dolar AS.

Ruang lingkup geopolitik turut menambah ketidakpastian, dengan ketegangan dalam negosiasi AS‑Iran yang berpotensi menjaga risk premium minyak tinggi. Harga Brent tetap di atas US$100 per barel, meningkatkan tekanan inflasi bagi Indonesia yang merupakan net importir minyak.

Rully Arya Wisnubroto, Head of Research Mirae Asset Sekuritas, menilai bahwa penguatan rupiah masih rapuh mengingat faktor eksternal tersebut. Ia menambahkan bahwa volatilitas pasar global kemungkinan besar akan tetap tinggi dalam waktu dekat.

Tekanan pada IHSG terlihat dari penurunan 0,15% menjadi 7.095,58 poin pada sesi I, setelah sempat naik ke 7.151,50 poin. Penurunan ini dipicu oleh aksi jual bersih asing di saham-saham perbankan dan sektor energi.

Selain BMRI, saham-saham konglomerat lainnya juga mengalami penurunan, seperti PT Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) dengan net sell Rp33,32 miliar dan PT Darma Henwa (DEWA) dengan Rp25,27 miliar. Hal ini menandakan bahwa aksi jual tidak terbatas pada sektor perbankan saja.

Para analis pasar menyoroti bahwa nilai intrinsik BMRI masih kuat, namun tekanan likuiditas jangka pendek dapat memicu volatilitas harga. Mereka menyarankan investor untuk memantau level support kunci sekitar Rp6.200 per lembar.

Data internal Bank Mandiri menunjukkan bahwa penurunan harga saham belum memengaruhi fundamental bisnis secara signifikan, dengan rasio NPL tetap berada pada level yang aman. Namun, manajemen tetap waspada terhadap perkembangan arus keluar modal asing.

Kondisi pasar modal Indonesia saat ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor domestik dan internasional, termasuk kebijakan moneter Bank Indonesia dan fluktuasi harga komoditas. Investor domestik diharapkan dapat mengambil peran lebih aktif dalam menstabilkan likuiditas.

Sejumlah analis memperkirakan bahwa jika tekanan asing berlanjut, IHSG dapat kembali mengalami koreksi lebih dalam dalam minggu-minggu mendatang. Namun, dukungan kebijakan fiskal dan moneter pemerintah dapat menjadi penyangga utama.

Dalam laporan harian, Bursa Efek Indonesia mencatat bahwa volume perdagangan harian pada 28 April 2026 mencapai rekor tertinggi dalam tiga bulan terakhir. Hal ini mencerminkan intensitas aksi jual beli di tengah ketidakpastian.

Pengamat pasar menegaskan pentingnya diversifikasi portofolio, terutama bagi investor ritel yang cenderung terpapar risiko volatilitas tinggi. Memilih saham dengan fundamental kuat dan likuiditas tinggi menjadi strategi yang disarankan.

Secara teknikal, grafik harian BMRI menunjukkan penurunan di bawah moving average 20 hari, menandakan momentum bearish jangka pendek. Namun, level support jangka menengah tetap berada di sekitar Rp6.100.

Bank Indonesia pada hari yang sama mengumumkan bahwa suku bunga acuan tetap pada 5,75%, meski ada tekanan inflasi dari sisi energi. Kebijakan ini diharapkan dapat menahan laju depresiasi rupiah.

Investor institusi domestik masih menunjukkan minat beli pada saham perbankan, meskipun volumenya lebih kecil dibandingkan aksi jual asing. Hal ini memberikan sinyal potensi rebound jika tekanan asing mereda.

Penutup, kondisi terbaru menunjukkan bahwa saham BMRI berada di bawah tekanan jual asing yang signifikan, sementara faktor eksternal seperti harga minyak dan geopolitik menambah beban pada pasar modal Indonesia. Pemantauan terus-menerus terhadap data outflow dan kebijakan moneter akan menjadi kunci bagi keputusan investasi ke depan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.