Media KampungSaham BMRI terus tertekan, diperkirakan menyentuh level terendah 2026 berkat penurunan harga dan data aset terbesar bank pada akhir 2025, menunjukkan tekanan jual investor.

Penurunan harga saham Bank Mandiri (BMRI) terjadi sejak awal minggu ini, dengan pergerakan harga menembus batas support teknikal di sekitar Rp5.200 per lembar.

Data resmi Bursa Efek Indonesia mencatat bahwa per 31 Desember 2025, aset BMRI mencapai Rp2.829,95 triliun, menjadikannya emiten dengan aset terbesar di pasar modal Indonesia.

Ukuran aset tersebut memberi sinyal kuat bahwa bank memiliki fondasi keuangan yang solid, meskipun tekanan pasar menurunkan nilai sahamnya.

Analisis teknikal menunjukkan bahwa rata‑rata pergerakan harian berada di kisaran negatif 0,8 persen, menandakan momentum bearish yang masih berlanjut.

Sejumlah analis pasar menilai bahwa penurunan ini dipicu oleh sentimen global yang memengaruhi sektor keuangan, serta laporan laba kuartal terakhir yang sedikit di bawah ekspektasi.

“Kondisi likuiditas pasar masih ketat, dan investor lebih berhati‑hati terhadap saham perbankan,” ujar Budi Santoso, kepala riset di sebuah perusahaan sekuritas terkemuka.

Dia menambahkan bahwa BMRI masih memiliki ruang untuk pulih bila bank berhasil menurunkan rasio NPL dan meningkatkan margin bunga bersih.

Secara fundamental, rasio kecukupan modal (CAR) BMRI tetap berada di atas 20 persen, jauh di atas batas minimum yang ditetapkan regulator.

Selain itu, rasio profitabilitas seperti ROE berada pada level 15 persen, menandakan kemampuan menghasilkan laba yang konsisten.

Namun, tekanan jual masih didorong oleh pergerakan indeks Kompas100 yang mengalami koreksi cukup dalam pada hari Senin, 27 April 2026.

Indeks tersebut turun lebih dari 1,2 persen, menurunkan nilai portofolio banyak investor institusional yang memegang saham BMRI.

Dalam konteks makroekonomi, inflasi Indonesia pada Maret 2026 tercatat 3,48 persen year‑on‑year, sementara pertumbuhan ekonomi diproyeksikan berada di angka 5,1 persen.

Faktor‑faktor tersebut memberikan tekanan pada daya beli konsumen dan menurunkan permintaan kredit, yang pada gilirannya memengaruhi pendapatan bunga bank.

Bank Mandiri juga tengah menghadapi kompetisi ketat dari bank-bank lain yang meluncurkan produk digital baru, memperkecil pangsa pasar tradisional.

Meski begitu, bank terus berinvestasi dalam transformasi digital, dengan target meningkatkan penggunaan kanal online hingga 70 persen nasabah pada akhir 2026.

Investor yang mempertimbangkan masuk ke posisi beli disarankan menunggu konfirmasi rebound teknikal di atas level resistance Rp5.500.

Kondisi terbaru menunjukkan bahwa volume perdagangan masih tinggi, menandakan adanya minat beli yang potensial bila harga stabil.

Dengan fundamental yang kuat namun sentimen pasar yang masih negatif, pergerakan harga saham BMRI ke depan akan sangat dipengaruhi pada kebijakan moneter dan data ekonomi mendatang.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.