Media Kampung – BBCA mencatat penurunan harga signifikan pada akhir pekan 27 April 2026, sementara volume crossing mencapai Rp 423,74 miliar, menandakan volatilitas tinggi di pasar saham Indonesia.

Transaksi crossing terjadi pada harga Rp 7.864 per lembar, dengan total nilai mencapai Rp 423,74 miliar, mencerminkan aktivitas intensif di bursa meski harga sedang melorot.

Setelah penutupan, saham BBCA turun 1,24% menjadi Rp 5.975, menandai penurunan terbesar sejak awal tahun dan menambah tekanan pada likuiditas pasar.

Data net foreign sell (NFS) tercatat mencapai Rp 2,1 triliun dalam satu hari, mengindikasikan penarikan dana asing secara masif dari saham perbankan.

Jonathan Gunawan dari Trimegah Sekuritas menegaskan, “Tekanan ini bersifat sektoral, tidak khusus pada BBCA, melainkan mencerminkan penyesuaian portofolio investor asing terhadap risiko makro yang meningkat.”

Faktor geopolitik, termasuk konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, memperparah ketidakpastian global, sementara harga energi tetap tinggi meningkatkan beban biaya perusahaan.

Nilai tukar rupiah yang melemah turut menurunkan ekspektasi pertumbuhan laba, karena biaya impor dan beban bunga meningkat secara signifikan.

Bank-bank besar lain seperti BMRI dan BBRI juga mengalami penurunan, masing-masing sebesar 2,81% dan 2,85%, dengan NFS masing-masing Rp 655 miliar dan Rp 447,3 miliar.

Fundamental BBCA tetap kuat; bank ini melaksanakan kebijakan dividen interim tiga kali setahun, menjaga daya tarik bagi investor institusional.

Pada kuartal I 2026, BBCA melaporkan laba bersih sebesar Rp 14,7 triliun, naik 4% secara tahunan, didorong oleh pendapatan non-bunga yang stabil.

Victor Stefano dan Naura Reyhan Muchlis dari BRI Danareksa Sekuritas mencatat, “Laba BBCA sejalan dengan ekspektasi pasar, dengan NIM yang tetap kompetitif meski tekanan biaya.”

Pertumbuhan kredit tercatat sekitar 6% tahun ke tahun, dipimpin oleh segmen korporasi, sementara segmen konsumer menghadapi tantangan khususnya dalam pembiayaan kendaraan.

Kualitas aset menunjukkan perbaikan berkelanjutan, terutama pada segmen wholesale, yang membantu menyeimbangkan risiko kredit di segmen ritel.

BBCA tetap mempertahankan panduan 2026 dengan target pertumbuhan kredit 8‑10% dan NIM 5,4‑5,6%, sementara BRIDS menguatkan rekomendasi beli dengan target harga Rp 10.900 per lembar.

Dengan harga pasar saat ini berada di Rp 5.975, saham BBCA menawarkan potensi upside yang signifikan bagi investor yang menilai fundamental tetap solid meski kondisi makro bergejolak.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.