Media Kampung – 18 April 2026 | Gelombang buyback saham mengalir deras di pasar modal Indonesia pada kuartal pertama 2024, menandai peningkatan signifikan aktivitas penebusan saham oleh perusahaan publik. Langkah tersebut dipandang sebagai strategi untuk meningkatkan laba per saham dan menstabilkan harga saham di tengah volatilitas global.

Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), lebih dari 150 perusahaan melaksanakan buyback dengan total nilai mencapai Rp 45 triliun selama tiga bulan pertama tahun ini. Rata-rata nilai buyback per perusahaan mencapai sekitar Rp 300 miliar, melampaui tingkat rata-rata tiga tahun terakhir.

OJK menegaskan bahwa program buyback harus memenuhi kriteria likuiditas, transparansi, dan tidak mengganggu kepatuhan modal minimum. Penerbitan surat keputusan terbaru pada 5 Februari 2024 memperketat persyaratan pengumuman dan pelaporan kepada publik.

CEO PT Astra International, Djoko Susanto, mengatakan, “Buyback saham merupakan cara efektif untuk mengoptimalkan penggunaan kas dan meningkatkan kepercayaan pemegang saham.” Ia menambahkan bahwa keputusan tersebut didasarkan pada surplus kas sebesar Rp 12 triliun dan prospek pendapatan yang kuat.

Direktur Pengawasan Pasar Modal OJK, Lina Marlina, menyatakan, “Kami mengapresiasi perusahaan yang melaksanakan buyback dengan prinsip tata kelola yang baik, namun tetap mengawasi agar tidak menimbulkan manipulasi harga.” Pernyataan tersebut menegaskan komitmen regulator dalam menjaga integritas pasar.

Pada tahun 2022, total buyback hanya mencapai Rp 18 triliun, menunjukkan peningkatan hampir tiga kali lipat dalam dua tahun terakhir. Kenaikan tersebut sejalan dengan pemulihan ekonomi pasca pandemi dan kebijakan moneter yang mendukung likuiditas.

Perusahaan kini lebih memilih buyback daripada dividen karena dapat menyesuaikan jumlah saham beredar tanpa meningkatkan beban pajak bagi pemegang saham. Strategi ini juga membantu meningkatkan rasio laba bersih per saham (EPS) yang menjadi indikator utama penilaian nilai perusahaan.

Setelah pengumuman buyback, indeks LQ45 mencatat kenaikan 1,2% pada hari berikutnya, mencerminkan sentimen positif investor institusional. Namun, analis memperingatkan bahwa efek jangka pendek dapat berkurang jika perusahaan tidak melanjutkan program secara konsisten.

Investor ritel yang memiliki saham di perusahaan pembeli merasakan peningkatan nilai portofolio rata-rata sebesar 3,5% dalam satu bulan pertama. Di sisi lain, dana pensiun dan manajer aset menilai buyback sebagai sinyal kepercayaan manajemen terhadap prospek jangka panjang.

Sektor industri berat dan infrastruktur menjadi kontributor utama buyback, dengan PT Pertamina dan PT Bukit Asam menempati posisi teratas. Sektor teknologi dan consumer goods mencatat partisipasi lebih rendah, mencerminkan perbedaan struktur modal dan kebutuhan kas.

Para analis memperkirakan gelombang buyback akan berlanjut hingga akhir 2024, terutama jika suku bunga tetap berada pada level rendah dan laba perusahaan terus tumbuh. Namun, potensi risiko termasuk penurunan pendapatan global dan kebijakan fiskal yang lebih ketat dapat mengurangi daya beli perusahaan.

Data per 15 April 2024 menunjukkan nilai buyback kumulatif mencapai Rp 52 triliun, melampaui target OJK sebesar Rp 50 triliun untuk tahun ini. Peningkatan ini didorong oleh tambahan program buyback oleh 20 perusahaan energi terkemuka.

Dengan kondisi pasar yang masih relatif stabil, gelombang buyback saham diperkirakan akan terus mengguyur pasar modal, memberikan dukungan tambahan bagi likuiditas dan penilaian nilai saham. Investor disarankan untuk memantau kebijakan perusahaan secara berkala guna mengoptimalkan keputusan investasi.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.