Media Kampung – Banyak tamu hotel mungkin bertanya-tanya mengapa di kamar hotel biasanya tidak disediakan guling, padahal guling menjadi bagian penting bagi sebagian masyarakat Indonesia saat tidur. Hal ini memiliki alasan yang cukup mendasar dari sisi budaya hingga aspek kebersihan dan estetika kamar hotel.
Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Real Estat Indonesia (Waketum DPP REI), Bambang Ekajaya, menjelaskan bahwa penggunaan guling merupakan kebiasaan yang sudah melekat di masyarakat Indonesia sejak zaman kolonial Belanda. Guling atau yang dikenal dengan istilah “dutch wife” menjadi pelengkap tidur yang umum ditemukan di rumah-rumah warga.
Meski demikian, Bambang menyampaikan bahwa hotel berbintang tidak menjadikan guling sebagai standar perlengkapan kamar. “Tidak disediakan sebagai kelengkapan utama, melainkan hanya sebagai opsi tambahan jika tamu membutuhkannya,” ujar Bambang saat dihubungi Media Kampung pada Jumat (21/11/2025).
Alasan utama tidak disediakannya guling berkaitan erat dengan faktor higienitas. Guling yang sering kali bersentuhan langsung dengan seluruh tubuh, termasuk bagian yang rentan terkena cairan seperti air liur atau bahkan air seni, membuat pengelola hotel ragu untuk menjadikannya perlengkapan standar demi menjaga kebersihan dan kenyamanan semua tamu.
Selain itu, dari sisi estetika kamar, keberadaan guling dianggap dapat membuat tempat tidur di kamar hotel terlihat sempit dan kurang rapi. Oleh sebab itu, hotel memilih fokus pada perlengkapan standar seperti bantal dan selimut yang lebih mudah dijaga kebersihannya serta memberikan kesan ruang yang lebih lapang.
Dengan pertimbangan tersebut, hotel berbintang lebih mengutamakan kenyamanan dan kebersihan dengan menyediakan perlengkapan tidur yang sesuai standar internasional. Jika tamu menginginkan guling, biasanya hotel menyediakan layanan tambahan yang dapat diminta secara khusus.
Demikian penjelasan dari Bambang Ekajaya yang memberikan gambaran mengapa guling tidak menjadi perlengkapan wajib di kamar hotel, meskipun masih menjadi bagian penting dalam budaya tidur masyarakat Indonesia. Kebijakan ini menunjukkan bagaimana hotel menyeimbangkan kebutuhan kenyamanan tamu dengan standar kebersihan dan estetika kamar yang diutamakan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan