Media Kampung – Pasar motor listrik bekas di Indonesia mulai menunjukkan geliat. Seiring bertambahnya populasi kendaraan listrik, semakin banyak unit bekas yang bermunculan di bursa motor. Mulai dari motor dengan kilometer rendah hingga yang sudah digunakan lebih dari setahun, kini mulai banyak dicari.

Menurut Adi, penggawa Dablong.EV, mayoritas motor listrik bekas yang masuk ke tempat usahanya berasal dari konsumen yang ingin berganti kendaraan. Namun, ada juga unit hasil lelang atau pemilik yang menjual karena alasan tertentu. “Pertama, kebanyakan kalau yang jual ke saya kan memang yang ganti unit. Kadang ada yang di tarikan lelang juga jadi campur dapat unitnya,” ujarnya kepada Media Kampung, Selasa (9/6/2026).

Fenomena konsumen yang membeli motor listrik karena penasaran lalu menjualnya kembali memang ada, tetapi jumlahnya relatif kecil. “Ada juga yang kilometernya masih rendah, berarti orang cuma penasaran pakai motor listrik lalu dijual lagi. Tapi enggak banyak,” kata Adi.

Alasan ekonomi justru menjadi faktor paling dominan. Banyak pemilik memilih melepas motor listrik karena membutuhkan dana cepat. “Tapi keseringan dijual ke saya karena butuh uang jadi dijual motor listriknya. Atau ada juga biasanya karena sudah pakai setahun baterainya berkurang jadi dijual lagi,” jelasnya.

Selain faktor ekonomi, kondisi baterai yang mulai menurun performanya menjadi alasan utama lainnya. Fenomena ini banyak ditemui pada motor listrik yang masih menggunakan baterai jenis Sealed Lead Acid (SLA). “Contohnya banyak yang pakai Yadea karena baterainya SLA. Biasanya setelah setahun mulai dijual. Soalnya kapasitas baterainya sudah turun sekitar 30 persen, jadi kondisinya tinggal 70 persen,” kata Adi.

Penurunan kondisi baterai turut memengaruhi harga jual motor listrik bekas. Selisihnya bisa mencapai lebih dari separuh harga saat unit masih baru. Menurut Adi, motor listrik yang saat baru dijual dengan harga sekitar Rp 14 jutaan setelah subsidi, umumnya hanya dihargai Rp 5 juta hingga Rp 6 juta ketika kondisi baterainya sudah menurun. “Harga baru dulu sekitar Rp 14 jutaan setelah subsidi. Kalau dijual ke kami biasanya Rp 5 juta sampai Rp 6 juta kalau baterainya sudah jelek. Kalau baterainya pernah diganti atau masih dalam kondisi lebih baik, biasanya bisa Rp 6 juta sampai Rp 6,5 juta,” ungkapnya.

Sebelum kembali dipasarkan, unit-unit tersebut biasanya menjalani perbaikan terlebih dahulu. Khusus motor listrik dengan baterai SLA, penggantian baterai menjadi langkah yang kerap dilakukan agar kendaraan kembali optimal saat dijual. “Tapi sebelum saya jual lagi biasanya baterainya saya ganti baru kalau yang masih pakai SLA,” pungkas Adi.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.