Media KampungBYD, produsen kendaraan listrik asal Tiongkok, tengah mengupayakan ekspansi besar-besaran di Eropa dengan mempertimbangkan pengambilalihan pabrik-pabrik mobil yang kurang dimanfaatkan, termasuk yang dimiliki Stellantis. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari strategi BYD untuk memperkuat posisi merek premium mereka, Denza, di pasar Eropa.

Eksekutif Vice President BYD, Stella Li, mengonfirmasi bahwa perusahaan sedang melakukan pembicaraan dengan Stellantis serta sejumlah produsen mobil Eropa lainnya untuk mengakuisisi fasilitas produksi yang saat ini tidak beroperasi maksimal. “Kami sedang berbicara tidak hanya dengan Stellantis, tetapi juga dengan perusahaan lain,” ujar Li pada acara Financial Times Future of the Car di London.

Strategi BYD difokuskan pada penggunaan pabrik yang sudah ada agar dapat segera meningkatkan kapasitas produksi tanpa harus membangun fasilitas baru dari nol. Di Italia, dua lokasi yang menjadi perhatian perusahaan adalah pabrik Cassino dan Mirafiori. Pabrik Cassino mengalami penundaan peluncuran model baru Alfa Romeo yang telah direncanakan sebagai kendaraan listrik, sementara pabrik Mirafiori yang memproduksi Fiat 500 hibrida masih belum optimal dalam kapasitas produksinya.

Selain fasilitas produksi, BYD juga menunjukkan ketertarikan terhadap merek-merek legendaris Eropa, termasuk Maserati yang berada di bawah naungan Stellantis. Pendekatan ini menunjukkan niat BYD untuk tidak hanya mengandalkan produksi massal, namun juga mengembangkan segmen kendaraan premium melalui sub-merek Denza yang baru saja diluncurkan di Paris.

Perusahaan ini telah mengawali produksi uji coba di pabrik baru di Hungaria dan merencanakan pembukaan fasilitas senilai 1 miliar dolar AS di Turki pada akhir tahun 2026. Permintaan kendaraan listrik yang terus meningkat di Eropa mendorong BYD untuk mempercepat ekspansi, termasuk penguatan jaringan distribusi dan perekrutan manajemen dari kompetitor.

Stellantis sendiri mengakui bahwa dalam kegiatan bisnis normal mereka, perusahaan memang menjalin diskusi dengan berbagai pelaku industri otomotif, namun belum terdapat kesepakatan konkret dengan BYD. Sementara itu, kolaborasi Stellantis dengan Leapmotor, pesaing asal Tiongkok lainnya, juga sedang dalam tahap pengembangan pabrik di Spanyol untuk produksi kendaraan listrik.

Dengan target penjualan internasional sebesar 1,5 juta unit pada 2026, BYD memandang pengambilalihan pabrik yang ada sebagai jalan efektif untuk memenuhi permintaan pasar yang terus bertumbuh. Stella Li menambahkan bahwa kenaikan harga bahan bakar akibat konflik global juga mempercepat pergeseran konsumen ke kendaraan listrik, yang menjadi peluang besar bagi perusahaan.

Perkembangan ini menandai langkah ambisius BYD dalam memperkokoh kehadirannya di benua Eropa melalui pendekatan pengambilalihan aset produksi sekaligus memperluas lini produk premium Denza yang mengusung teknologi baterai terbaru dan fitur pengisian cepat selama lima menit.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.