Media Kampung – Penggunaan bahan bakar gas (BBG) pada mobil menawarkan efisiensi biaya, namun menuntut penyesuaian gaya berkendara dan bisa menurunkan performa mesin hingga 20 persen, terutama di kendaraan berkompresi rendah.
Ketua Umum Komunitas Mobil Gas (Komogas), Andy Lala, mengatakan penggunaan BBG membutuhkan penyesuaian kebiasaan berkendara dan pola penggunaan kendaraan sehari-hari.
Menurut Andy, salah satu kekurangan BBG terletak pada karakter pembakaran, terutama jika digunakan pada mesin dengan kompresi rendah.
Ia menyebut kondisi tersebut dapat menyebabkan penurunan tenaga sekitar 10–20 persen, terutama saat kendaraan digunakan di tanjakan atau membawa beban berat.
Namun dia menambahkan, penurunan tenaga mesin tersebut tidak terlalu terasa oleh pengemudi, apa lagi yang penggunaannya harian untuk perkotaan.
Ketersediaan SPBG juga masih menjadi tantangan utama pengguna BBG.
Saat ini, jumlah SPBG aktif di Jakarta disebut baru sekitar sembilan titik.
Menurut Andy, antrean pengisian sering terjadi pada jam tertentu, terutama saat armada transportasi umum mulai mengisi bahan bakar.
Selain faktor teknis dan infrastruktur, pengguna juga perlu memperhatikan kebijakan pabrikan kendaraan terkait konversi BBG.
Andy menilai BBG tetap layak dipertimbangkan bagi pengguna yang ingin menekan biaya operasional kendaraan dalam jangka panjang.
Biaya harian mobil konversi BBG lebih ringan, per liter cuma Rp4.500, menjadikannya pilihan menarik bagi mereka yang ingin menghemat biaya operasional.
Oleh karena itu, penting untuk mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan sebelum melakukan konversi ke BBG.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan