Media Kampung – 13 April 2026 | Menperin memberikan nasihat penting kepada produsen otomotif Jepang di Indonesia, menekankan perlunya penyesuaian strategi pasar dan percepatan produksi kendaraan listrik untuk menghadapi kompetisi dari merek China yang semakin agresif.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan bahwa dominasi merek Jepang di pasar otomotif nasional kini terancam karena konsumen semakin mengutamakan harga terjangkau dan teknologi ramah lingkungan yang ditawarkan oleh produsen China.

Data Gaikindo menunjukkan bahwa lima merek Jepang – Toyota, Daihatsu, Honda, Suzuki, dan Mitsubishi – masih memegang mayoritas pangsa pasar, namun persentasenya menurun secara konsisten sejak 2023.

Penurunan pangsa pasar terlihat pada data penjualan tiga tahun terakhir; Toyota turun dari 33,4% pada 2024 menjadi 31,2% pada 2025, sementara Daihatsu turun dari 18,9% menjadi 16,5% dalam periode yang sama.

Produsen China seperti BYD, Wuling, dan Chery berhasil masuk dalam daftar sepuluh merek terlaris 2025, masing-masing mencatat pangsa pasar di atas 5%, menandakan perubahan signifikan dalam preferensi konsumen.

“Kami harus dapat membaca kebijakan pemerintah yang beralih cepat ke kendaraan listrik, karena ini menjadi arah utama industri nasional,” ujar Agus Gumiwang dalam konferensi pers di Jakarta Pusat pada 9 April 2026.

Menperin menegaskan bahwa transisi ke kendaraan listrik tidak hanya terbatas pada mobil penumpang, melainkan juga mencakup sepeda motor, bus, dan truk, sebagai bagian dari strategi ketahanan energi nasional.

TahunToyotaDaihatsuHondaMitsubishiBYD
202333,4%18,7%13,8%8,3%
202433,4%18,8%11,6%8,3%
202531,2%16,5%8,5%8,4%5,8%

Pemerintah telah menyiapkan roadmap komprehensif untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik, termasuk insentif fiskal, pengembangan infrastruktur pengisian baterai, dan standar teknis yang mengikat produsen.

Produsen Jepang diharapkan meningkatkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) serta mengadopsi standar Nasional Indonesia (SNI) pada setiap model EV yang diproduksi di dalam negeri.

Kebijakan tersebut didukung oleh keputusan Kemenperin untuk memperkuat kolaborasi antara lembaga riset, universitas, dan industri dalam rangka transfer teknologi baterai dan motor listrik.

Dalam konteks global, konflik di Timur Tengah menjadi pelajaran penting bagi Indonesia untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, sehingga elektrifikasi kendaraan menjadi prioritas strategis.

Sejak penutupan dealer Honda di Pondok Pinang pada awal April 2026, produsen Jepang menunjukkan tanda-tanda tekanan pasar yang nyata, mempercepat kebutuhan untuk inovasi produk yang relevan dengan keinginan konsumen Indonesia.

Menperin menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa produsen Jepang harus bertransformasi secara cepat, memanfaatkan peluang pasar EV, dan menjaga keberlanjutan bisnis di era kompetisi global yang semakin ketat.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.