Media Kampung – Striker Irak Ali Al-Hamadi membawa kisah perjuangan hidup yang luar biasa ke panggung Piala Dunia 2026. Pemain berusia 24 tahun yang kini membela Ipswich Town itu tumbuh di lingkungan keras Toxteth, Liverpool, setelah keluarganya mengungsi dari Irak akibat konflik. Kini, ia berharap bisa membawa Irak lolos ke babak berikutnya saat menghadapi Senegal pada laga terakhir Grup I, Sabtu (27/6) dini hari WIB.

Masa Kecil Penuh Cobaan

Ali Al-Hamadi lahir di Irak, tetapi saat masih bayi, keluarganya terpaksa meninggalkan tanah air. Ayahnya, Ibrahim Al-Hamadi, adalah seorang aktivis yang menentang rezim Saddam Hussein. Ia ditangkap, dipenjara, dan disiksa. Saat itu, Ali baru berusia satu tahun. Ibunya, Asseel, membawanya mengungsi ke Yordania ketika Perang Teluk kedua pecah pada 2003.

“Ayah saya adalah seorang aktivis yang ikut dalam demonstrasi damai melawan kediktatoran di negara kami,” kenang Al-Hamadi kepada The Guardian pada 2023. “Suatu hari dia bersama rekan-rekannya ditangkap dan dipenjara. Dari dalam penjara mereka menulis surat kepada Kedutaan Inggris yang menjelaskan situasi mereka. Setelah dibebaskan, akhirnya kami bisa pindah ke Inggris.”

Hidup di Toxteth, Liverpool

Setelah tiba di Inggris, keluarga Al-Hamadi menetap di Toxteth, sebuah kawasan di Liverpool yang dikenal keras. Kehidupan tidak mudah. “Beberapa hari kami benar-benar tidak punya makanan. Tapi ayah selalu berusaha membawa pulang apa pun yang bisa ia dapatkan untuk kami,” kenangnya. “Hidup memang sulit, tetapi saya tetap memiliki banyak kenangan indah karena orang tua saya selalu berusaha memberikan yang terbaik.”

Di tengah kesulitan, sepak bola menjadi pelarian. Al-Hamadi menghabiskan waktu bermain di jalanan. “Saya sering bermain di jalan. Sepak bola selalu menjadi pelarian dari semua yang terjadi di lingkungan sekitar,” ujarnya.

Karier Profesional dan Sejarah Premier League

Bakat Al-Hamadi akhirnya membawanya ke level profesional. Pada Agustus 2024, ia mencatat sejarah sebagai pemain Irak pertama yang tampil di Premier League saat membela Ipswich Town. Di Piala Dunia 2026, ia hampir mencetak gol pada laga pembuka melawan Prancis meski Irak kalah 0-3.

“Saya telah melewati banyak kesulitan,” kata Al-Hamadi. Rasa sakit akibat benturan di lapangan nyaris tidak berarti dibandingkan perjuangan hidup yang telah dilaluinya.

Harapan di Piala Dunia 2026

Menjelang laga melawan Senegal, Al-Hamadi berharap bisa mencetak gol untuk menjaga peluang Irak lolos. Apa pun hasilnya, ia selalu mengingat perjuangan keluarganya sebagai sumber kekuatan. “Saya merasa pengalaman itu menjadi bagian istimewa dalam diri saya. Semua pengorbanan keluarga membuat saya memiliki semangat lebih besar dan cara pandang yang berbeda dalam menjalani hidup,” pungkasnya.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.