Media Kampung – Pep Guardiola mengakui keputusan terbesar yang ia sesali selama melatih Manchester City adalah tidak memberikan kesempatan kepada Joe Hart untuk membuktikan kemampuan pada musim pertamanya di klub tersebut. Pengakuan ini diungkapkan Guardiola menjelang laga terakhirnya bersama City melawan Aston Villa pada akhir pekan ini, yang sekaligus menandai berakhirnya perjalanan selama satu dekade pelatih asal Spanyol itu di Etihad Stadium.
Ketika Guardiola tiba di Manchester City pada tahun 2016, Joe Hart masih menjadi salah satu pemain kunci dan bahkan kapten tim. Namun, Guardiola memilih untuk tidak melibatkan Hart dalam skema permainannya karena menginginkan kiper yang lebih aktif menggunakan kaki dalam permainan. Keputusan itu akhirnya membuat posisi Hart digantikan oleh Claudio Bravo dan kemudian Ederson, yang menjadi pilihan utama hingga saat ini.
Dalam wawancara dengan Sky Sports, Guardiola mengungkapkan bahwa ia menyesal karena tidak mencoba bekerja sama lebih dulu dengan Hart sebelum mengambil keputusan besar tersebut. “Saya membuat banyak keputusan dan tentu saja ada kesalahan. Namun, penyesalan terbesar saya adalah tidak memberi Joe Hart kesempatan untuk membuktikan dirinya,” ujarnya.
Guardiola menambahkan bahwa seharusnya ia mengajak Hart untuk mencoba berkolaborasi terlebih dahulu, lalu jika tidak berhasil, baru mengambil langkah lain. “Saya seharusnya berkata, ‘Joe, mari kita coba bersama.’ Jika tidak berhasil, kita bisa mengambil keputusan setelahnya. Setidaknya proses itu terjadi,” kata pelatih berusia 55 tahun itu.
Selain pengakuan soal Joe Hart, Guardiola juga telah memastikan akan meninggalkan Manchester City setelah sepuluh tahun memimpin klub. Selama periode tersebut, ia berhasil membawa klub meraih 20 trofi utama dan memberikan kontribusi besar dalam mengangkat status City sebagai salah satu tim terbaik di dunia. Keputusan untuk mundur diumumkan pada Jumat, 22 Mei 2026, dan pertandingan melawan Aston Villa pada Minggu, 24 Mei 2026, menjadi laga penutupnya.
Guardiola juga mengungkapkan rencana untuk mengambil jeda sejenak dari dunia kepelatihan setelah meninggalkan City. Ia merasa perlu mengistirahatkan diri dari tekanan dan tuntutan tinggi yang selama ini melekat dalam dunia sepak bola profesional. “Saya membutuhkan waktu untuk mundur dan beristirahat. Banyak yang mengira saya akan segera kembali melatih, tapi saya harus membuktikan pada diri sendiri bahwa saya benar-benar perlu jeda,” ujarnya.
Sepanjang kariernya, Guardiola telah melatih klub-klub besar seperti Barcelona dan Bayern Muenchen sebelum akhirnya bergabung dengan Manchester City pada 2016. Tekanan tinggi menghadapi kompetisi seperti Liga Premier dan target treble membuatnya merasa perlu mengambil waktu untuk menyegarkan kondisi mental dan fisik.
Dengan pengumuman mundur ini, Manchester City sudah menyiapkan suksesor yang kemungkinan besar adalah Enzo Maresca, yang telah dikabarkan sebagai kandidat sejak tahun lalu. Meskipun meninggalkan kursi pelatih, Guardiola memastikan dirinya tetap akan terlibat dalam organisasi City Football Group sebagai duta global, melanjutkan hubungan eratnya dengan klub.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.






Tinggalkan Balasan