Media Kampung – Pertandingan antara NEC dan Telstar pada Sabtu (3 Mei 2026) berakhir dengan skor imbang 1-1, menahan harapan NEC untuk memperkuat posisi papan atas Eredivisie. Kedua tim bersaing ketat di babak akhir musim, dengan Telstar tetap berada di atas zona relegasi sementara NEC berjuang mempertahankan posisi ketiga.

Telstar membuka skor lebih dulu melalui Sem van Duijn yang memanfaatkan bola longgar di tepi daerah penalti dan menempatkannya ke dalam gawang pada babak pertama. Gol tersebut memberi keuntungan awal bagi tim dari wilayah Utara, yang pada saat itu tampak mengendalikan aliran permainan.

Namun, lima menit menjelang akhir waktu tambahan, Tjaronn Chery menyamakan kedudukan untuk NEC dengan tembakan terarah yang menembus pertahanan Telstar. Gol Chery menjadi titik balik penting, karena NEC sempat merayakan tiga poin setelah Youssef El Kachati mengirimkan rebound ke dalam gawang lawan.

Sayangnya, keputusan VAR membatalkan gol tersebut dengan menyatakan El Kachati berada dalam posisi offside pada saat mengirimkan bola. “VAR menegaskan bahwa pemain kami berada di posisi terdepan saat mengirimkan bola, jadi gol tidak dapat dihitung,” ujar juru bicara NEC dalam konferensi pers singkat setelah pertandingan.

Hasil imbang ini memberikan dampak signifikan pada klasemen. NEC kini berada di posisi ketiga dengan 56 poin, hanya selisih satu poin dari Ajax yang berada di urutan keempat. Sementara Telstar, meski hanya mengumpulkan satu poin, tetap berada satu posisi di atas zona relegasi, memastikan mereka tidak terjebak dalam playoff degradasi.

Situasi ini menjadi penting mengingat persaingan sengit di antara tiga tim besar: Feyenoord, Ajax, dan Twente, yang semuanya juga sedang berjuang meraih tempat di kompetisi Eropa. Feyenoord, yang baru saja menaklukkan Fortuna Sittard, kini memiliki keunggulan lima poin dengan dua pertandingan tersisa, sementara Ajax harus mengandalkan hasil positif melawan PSV untuk tetap bersaing.

Kondisi lapangan di Stadion Telstar juga menjadi faktor penentu. Cuaca cerah dengan suhu sekitar 18 derajat Celsius memberikan kondisi ideal bagi kedua tim. Penonton tercatat mencapai 7.500 orang, menunjukkan antusiasme tinggi meski pertandingan tidak menghasilkan kemenangan bagi salah satu pihak.

Pelatih NEC, Pascal Jansen, menilai penampilan timnya cukup solid meski harus puas dengan satu poin. “Kami menunjukkan karakter kuat dengan bangkit kembali setelah gol telat yang dibatalkan,” ujar Jansen. “Namun, kami harus memperbaiki konsistensi di dua laga terakhir untuk tetap bersaing pada puncak klasemen.”

Di sisi lain, pelatih Telstar, Hans de Koning, menekankan pentingnya menjaga hasil positif dalam situasi genting. “Kami tidak ingin kembali ke zona relegasi. Hasil imbang melawan tim besar seperti NEC memberi kami kepercayaan diri untuk melanjutkan perjuangan,” kata de Koning.

Statistik pertandingan mencatat bahwa kedua tim masing‑masing mencatat 8 tembakan ke gawang, dengan tingkat akurasi tembakan sekitar 62 persen. NEC mencatat 5 serangan berbahaya, sementara Telstar mengungguli dengan 7 serangan masuk area pertahanan lawan.

Keberhasilan NEC mengamankan poin penting ini membuka peluang bagi mereka untuk menekan Feyenoord pada sisa pertandingan musim. Namun, mereka harus tetap waspada karena selisih poin yang tipis dengan Ajax dan Twente dapat berubah dengan cepat.

Dengan jadwal pertandingan berikutnya, NEC akan menghadapi Feyenoord pada Minggu (5 Mei 2026) di De Kuip, sementara Telstar akan melawan FC Groningen pada hari yang sama. Kedua laga tersebut akan menjadi penentu akhir bagi masing‑masing tim dalam menentukan nasib mereka di akhir musim Eredivisie.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.