Media KampungPSIS Semarang kembali menjadi sorotan setelah menerima sanksi larangan mendaftarkan pemain baru dari FIFA. Menanggapi kondisi tersebut, Bos PSIS Semarang jawab sanksi FIFA: Kami kroscek siapa pelapor dan akar masalahnya. Hal ini disampaikan langsung oleh mantan CEO PSIS, Alamsyah Satyanegara Sukawijaya atau yang akrab disapa Yoyok Sukawi, yang menegaskan bahwa pihaknya tengah melakukan pengecekan mendalam terkait siapa pelapor dan akar permasalahan yang mengakibatkan sanksi tersebut.

FIFA menjatuhkan sanksi kepada PSIS berupa larangan mendaftarkan pemain baru selama tiga periode transfer. Sanksi ini muncul setelah adanya laporan yang diterima FIFA pada 28 Mei 2026 terkait dua kasus pemutusan kontrak pemain asing pada tahun 2025. Larangan ini berpotensi menghambat aktivitas transfer PSIS menjelang musim kompetisi Championship 2026/2027, yang tentu saja menjadi perhatian serius bagi manajemen dan pendukung klub.

Dalam penjelasannya, Bos PSIS Semarang jawab sanksi FIFA: Kami kroscek siapa pelapor dan akar masalahnya. Yoyok Sukawi menegaskan bahwa kedua kasus tersebut merupakan tanggung jawab manajemen lama, karena kontrak kedua pemain asing itu diputus saat kepengurusan sebelumnya masih berjalan. “Saya tidak lepas tangan karena ini merupakan pemain yang diputus kontrak oleh manajemen lama pada 2025. Sesuai kesepakatan antara manajemen lama dan manajemen baru, penyelesaian kasus ini menjadi kewajiban manajemen lama dengan menggunakan anggaran PSIS musim 2024-2025,” ujarnya.

Lebih lanjut, Yoyok menyampaikan bahwa sumber anggaran untuk menyelesaikan kewajiban akibat sanksi FIFA ini sebenarnya masih tersedia dalam bentuk piutang yang belum dibayarkan oleh PT Liga Indonesia Baru (LIB) kepada PSIS. “Piutang inilah yang sesuai kesepakatan antara manajemen lama dan manajemen baru akan digunakan untuk menyelesaikan seluruh kasus musim 2024-2025 hingga tuntas. Nilainya jauh lebih besar daripada beban kewajiban pembayaran sanksi FIFA,” tambahnya.

Menurut Yoyok, pihaknya telah berulang kali menagih hak klub kepada PT LIB, termasuk melalui surat resmi yang dikirimkan direksi pada 12 Mei 2026. Hal ini menunjukkan upaya serius dari manajemen lama untuk menyelesaikan persoalan tersebut agar tidak mengganggu persiapan tim menghadapi kompetisi mendatang.

Manajemen PSIS melalui Chief Operating Officer (COO), Fariz Julinar, juga menyatakan bahwa mereka tengah fokus untuk menyelesaikan akar masalah yang menjadi dasar keluarnya sanksi dari FIFA agar tidak menghambat persiapan tim. “Pihak manajemen sedang berproses menyelesaikan sengketa yang ada agar ke depan tidak mengganggu kesiapan tim dalam mencapai target yang telah ditetapkan,” ujarnya.

Sanksi FIFA yang kini menimpa PSIS Semarang sebenarnya bukanlah kasus yang berdiri sendiri. Sejumlah klub besar lainnya di Indonesia, seperti PSM Makassar dan Persib Bandung, juga tengah menghadapi sanksi serupa akibat sengketa kontrak dan tunggakan gaji kepada mantan pemain asing. Hal ini menandakan perlunya tata kelola dan penyelesaian sengketa kontrak yang lebih baik di klub-klub sepak bola Indonesia.

Dalam kesibukannya mengurus sanksi FIFA, Bos PSIS Semarang jawab sanksi FIFA: Kami kroscek siapa pelapor dan akar masalahnya, sebagai upaya transparansi dan akuntabilitas dalam penyelesaian masalah. Mereka berkomitmen untuk menyelesaikan persoalan ini dengan tuntas agar PSIS bisa kembali fokus ke prestasi dan transfer pemain yang dibutuhkan untuk memperkuat tim di kompetisi mendatang.

Dengan adanya sanksi ini, PSIS harus bekerja keras agar tidak kehilangan momentum dalam persiapan musim 2026/2027. Di sisi lain, dukungan dari suporter dan berbagai pihak menjadi penting untuk menjaga semangat dan stabilitas klub selama proses penyelesaian masalah ini.

Secara keseluruhan, Bos PSIS Semarang jawab sanksi FIFA: Kami kroscek siapa pelapor dan akar masalahnya dengan sikap terbuka dan bertanggung jawab. Mereka berharap dengan keterbukaan ini, proses penyelesaian sengketa bisa berjalan lancar dan PSIS dapat kembali berkompetisi dengan tenang tanpa hambatan administrasi yang merugikan.

Ke depan, diharapkan manajemen PSIS bersama PT Liga Indonesia Baru dapat menyelesaikan piutang yang masih tertunda sehingga beban keuangan klub dapat teratasi dan sanksi FIFA dapat segera dicabut. Hal ini juga menjadi pelajaran penting bagi klub-klub sepak bola Indonesia untuk meningkatkan pengelolaan kontrak dan administrasi agar kejadian serupa tidak terulang.

Dengan semangat dan kerja sama yang baik, PSIS Semarang optimis dapat melewati masa sulit ini dan kembali bersaing di kancah sepak bola nasional maupun internasional.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.