Media Kampung – Veda Ega Pratama, pembalap muda asal Indonesia, kini dikenal dengan julukan “Travis Pastrana Moto3” setelah menampilkan gaya balap yang berani pada seri Moto3 2026. Julukan tersebut menjadi sorotan utama media internasional dan menandai peningkatan profilnya di panggung balap dunia.
Julukan itu pertama kali muncul di paddock Honda Team Asia setelah analis MotoGP Italia, Matteo Guerinoni, membahasnya dalam sebuah podcast resmi. Guerinoni menyatakan, “Para kru paddock sering menyamakan Veda dengan Travis Pastrana, sosok legendaris di dunia motocross dan aksi ekstrem”.
Gaya Veda ditandai dengan pilihan racing line yang ekstrem, penempatan motor di area sempit, serta overtaking pada tikungan yang biasanya dianggap tidak memungkinkan. Pendekatan tersebut jarang terlihat di kelas Moto3 yang biasanya mengutamakan konsistensi dan strategi ketat.
Hingga akhir Mei 2026, Veda berhasil mengumpulkan 37 poin dan menempati peringkat keenam dalam klasemen sementara, sebuah peningkatan signifikan dibandingkan fase awal musim. Pencapaian ini didukung oleh hasil start ke‑17 dan finish ke‑6 pada balapan Jerez, Spanyol, yang menegaskan kemampuan ia dalam memanfaatkan celah sekecil apa pun.
Keberhasilan tersebut tidak lepas dari pengalaman Veda di level junior, khususnya pada Red Bull MotoGP Rookies Cup dan FIM JuniorGP, di mana ia pernah mencatat kemenangan ganda di Mugello pada tahun 2025. Pengalaman tersebut memberikan pengetahuan lintas sirkuit yang berharga ketika ia melaju di trek Eropa yang menuntut adaptasi cepat.
Musim ini, Veda akan menghadapi tiga seri berurutan di Eropa: Prancis, Spanyol, dan Italia, yang menjadi ujian penting bagi konsistensinya. Jalur balap tersebut juga menjadi arena bagi tim Honda Team Asia untuk menilai sejauh mana agresivitasnya dapat diterjemahkan menjadi poin stabil.
Tim teknis mengakui bahwa gaya agresif Veda memberikan keunggulan taktis, terutama dalam situasi di mana ruang manuver terbatas. Namun, mereka juga menekankan pentingnya kontrol risiko, mengingat margin kesalahan di kelas Moto3 sangat tipis dan dapat berujung pada kecelakaan.
Sejumlah anggota tim mengungkapkan kekhawatiran mereka terkait potensi kecelakaan yang dapat menghambat perkembangan karier Veda. Mereka menekankan bahwa pembalap muda harus belajar menyeimbangkan keberanian dengan konsistensi untuk menghindari dampak negatif pada peringkat tim.
“Veda perlu mengelola agresinya agar tidak menjadi bumerang,” kata salah satu mekanik senior tim yang meminta anonimitas. Pernyataan tersebut mencerminkan keinginan tim untuk membimbing Veda agar gaya balapnya tetap menjadi aset, bukan beban.
Para pengamat menilai bahwa jika Veda mampu menyeimbangkan kecepatan dengan ketepatan, peluangnya untuk menembus lima besar klasemen atau bahkan podium semakin terbuka lebar. Kunci utama terletak pada kemampuan membaca situasi balapan dan menghindari kesalahan fatal di lintasan.
Dengan posisi keenam dan poin yang terus bertambah, Veda berada pada persimpangan penting dalam kariernya. Dukungan tim serta kemampuan mengontrol agresi akan menjadi faktor penentu apakah ia dapat melangkah ke kelas Moto2 atau tetap berada di Moto3.
Penggemar balap di Indonesia dan dunia menantikan perkembangan selanjutnya, terutama pada seri Eropa yang akan menguji ketahanan mental dan fisik Veda. Jika ia berhasil menyeimbangkan keberanian dengan konsistensi, julukan “Travis Pastrana Moto3” dapat menjadi batu loncatan menuju karier MotoGP yang gemilang.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan