Media Kampung – 15 April 2026 | PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) mencatat kenaikan tajam pada sesi pertama perdagangan tanggal 14 April 2026, menjadi salah satu katalis utama yang mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat lebih dari dua persen. Pergerakan harga saham CDIA menjadi sorotan utama investor dalam hari perdagangan yang penuh dinamika.
Saham CDIA dibuka pada level Rp1.155 per lembar, kemudian menguat 30 poin dan menutup sesi pertama dengan kenaikan 12,44% menjadi Rp1.265. Selama periode tersebut, harga tertinggi tercapai di Rp1.315, sementara level terendah berada di Rp1.140, menandakan volatilitas yang signifikan dalam rentang perdagangan singkat.
Frekuensi perdagangan CDIA mencapai 47.473 kali dengan volume total 3.723.934 lembar saham, menghasilkan nilai transaksi harian sebesar Rp462,3 miliar. Angka-angka tersebut menegaskan tingginya minat beli dan aktivitas likuiditas yang kuat pada saham perusahaan energi terintegrasi ini.
Berdasarkan data Google Finance, harga CDIA mengalami penguatan 38,25% dalam lima hari terakhir dan naik 61,15% selama sebulan terakhir. Kenaikan konsisten tersebut memperkuat persepsi pasar bahwa CDIA berada dalam tren bullish yang berkelanjutan.
Sementara itu, IHSG melesat 2,14% ke level 7.660,75, dengan pembukaan di sekitar 7.600. Pada sesi pertama, indeks mencatat level tertinggi 7.686,35 dan terendah 7.592,74. Total frekuensi perdagangan di pasar mencapai 1.849.488 kali dengan volume 28,7 miliar lembar saham, menghasilkan nilai transaksi harian sebesar Rp13,6 triliun.
Sebanyak 513 saham menguat, 131 saham melemah, dan 173 saham tetap datar, menciptakan lanskap pasar yang dominan hijau. Di antara sektor-sektor, infrastruktur mencatat kenaikan tertinggi sebesar 4,86%, diikuti energi (2,94%), basic materials (3,01%), industri (3,05%), dan consumer non‑siklikal (1,64%). Hanya sektor consumer siklikal yang mengalami penurunan 1,1%.
Menurut analis senior Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta Utama, kenaikan CDIA merupakan bagian dari fenomena “Prajogo Effect” di mana emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu menggerakkan pasar secara signifikan. Ia menekankan bahwa pergerakan ini memperkuat sentimen bullish di Bursa Efek Indonesia meski risiko profit‑taking tetap perlu diwaspadai.
Data Stockbit menunjukkan bahwa saham-saham lain dalam grup Prajogo, seperti Barito Pacific Tbk (BRPT) yang naik 8,68% ke Rp2.380, Bumi Resources Energy Tbk (BREN) yang melesat, serta CUAN (Petrindo Jaya Kreatif) yang naik 2,80% ke Rp1.470, turut berkontribusi pada penguatan indeks secara keseluruhan. Kinerja serentak tersebut menegaskan peran penting konglomerasi dalam menggerakkan likuiditas pasar.
Analis memperingatkan bahwa lonjakan tajam dapat memicu aksi ambil untung atau overbought, terutama bila sentimen global tetap lemah. Investor disarankan untuk memantau level support teknikal dan memperhatikan faktor fundamental sebelum menambah posisi pada saham CDIA.
Pada kuartal I 2026, CDIA mencatat laba bersih sebesar USD205 juta atau setara Rp3,51 triliun, sementara EBITDA mencapai USD421 juta atau Rp7,21 triliun, menandai pencapaian tertinggi dalam sejarah perusahaan. Kinerja keuangan ini didorong oleh margin kilang yang kuat dan strategi pengadaan bahan baku yang optimal.
Manajemen menyoroti integrasi aset strategis di Singapura, termasuk kilang milik Shell serta bisnis ritel ExxonMobil, sebagai faktor utama peningkatan pendapatan. Selain itu, ekspansi fasilitas Butene‑1 dan MTBE di Cilegon serta efisiensi biaya operasional memperkuat posisi kompetitif CDIA di pasar petrokimia regional.
Likuiditas perusahaan tetap solid dengan kas sebesar USD3,8 miliar, memberikan ruang fleksibilitas untuk investasi dan ekspansi. Rencana belanja modal sebesar USD1 miliar (Rp17,13 triliun) diarahkan pada proyek soda kaustik dan ethylene dichloride (EDC) berskala dunia yang dijadwalkan mulai beroperasi pada 2027.
Hingga penutupan pasar, harga CDIA masih berada di atas Rp1.200 per lembar, mencerminkan dukungan berkelanjutan dari pelaku pasar meski volatilitas global tetap tinggi. Kondisi terbaru menandakan bahwa CDIA tetap menjadi saham pilihan bagi investor yang mengincar pertumbuhan jangka menengah dengan fundamental yang kuat.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.














Tinggalkan Balasan