Media Kampung, Kumamoto – Gempa berkekuatan magnitudo 7,1 mengguncang Prefektur Kumamoto, Jepang, menyebabkan korban tewas bertambah menjadi 30 orang. Kerusakan parah terjadi di berbagai lokasi, termasuk pusat perbelanjaan Aeon Mall di Kota Kashima yang sebagian lantai duanya runtuh, serta pabrik Nippon Paper di Kota Yatsushiro.
Tim penyelamat yang terdiri dari ribuan personel terus melakukan pencarian korban yang terjebak di reruntuhan mal dan bangunan lain. Operasi penyelamatan ini berlangsung di tengah suhu ekstrem yang mencapai 39 derajat Celsius, serta gangguan pasokan listrik dan air bersih yang masih melanda puluhan ribu rumah.
Gempa yang terjadi pada Selasa (28/7/2026) telah menyebabkan kerusakan luas, mulai dari rumah-rumah roboh, jembatan rusak, kebakaran, hingga pemadaman listrik dan krisis air bersih. Lebih dari 100 gempa susulan tercatat sejak guncangan utama, menyebabkan banyak warga memilih bermalam di dalam mobil karena khawatir akan gempa susulan.
Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menyatakan bahwa operasi pencarian korban masih terus dilakukan di sejumlah lokasi terdampak. Di pusat perbelanjaan Aeon Mall, sekitar 12 orang berhasil dievakuasi dari reruntuhan, namun enam di antaranya meninggal dunia. Seluruh korban tewas di mal tersebut adalah karyawan yang kembali memasuki gedung setelah proses evakuasi pengunjung selesai.
Pemerintah Jepang telah mengirimkan 300 unit pendingin udara untuk mengatasi risiko serangan panas di pusat-pusat evakuasi, sementara sekitar 22.670 rumah dan fasilitas masih mengalami pemadaman listrik dan sekitar 84.000 rumah menghadapi gangguan pasokan air bersih. Warga mengantre untuk mendapatkan bahan bakar dan air minum di tengah kondisi sulit ini.
Kerusakan di pabrik Nippon Paper juga cukup parah, dengan lima orang tewas akibat ambruknya sebagian bangunan dan cerobong asap. Sebelas pekerja sempat terjebak di dalam, dengan tujuh orang berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat.
Para ahli seismologi menduga gempa ini dipicu oleh segmen tengah Zona Sesar Hinagu, yang sebelumnya juga menyebabkan gempa besar pada 2016 di wilayah yang sama. Dengan dua dari tiga segmen sesar tersebut telah memicu gempa, para ahli memperingatkan kemungkinan peningkatan energi seismik di segmen selatan yang berpotensi menyebabkan gempa di masa depan.
Gempa ini menimbulkan dampak serius tidak hanya pada korban jiwa dan kerusakan fisik, tetapi juga pada kondisi sosial dan infrastruktur, memaksa ribuan warga mengungsi dan menghadapi tantangan cuaca panas ekstrem serta krisis air bersih. Pemerintah dan tim penyelamat masih berupaya maksimal untuk menangani dampak dan memulihkan kondisi di wilayah terdampak.













Tinggalkan Balasan