Media Kampung – Dalam rapat umum pemegang saham tahunan Nissan Motor Co., seorang pemegang saham mengajukan usulan mengejutkan: meminta Carlos Ghosn kembali menjabat sebagai CEO. Usulan ini muncul di tengah upaya Nissan bangkit dari berbagai tantangan bisnis. Sebagian investor menilai Ghosn adalah sosok yang berhasil menyelamatkan Nissan dari krisis keuangan pada awal 2000-an melalui program restrukturisasi ‘Nissan Revival Plan’.

Namun, manajemen Nissan langsung menolak usulan tersebut. Perusahaan menegaskan tidak memiliki rencana untuk mengangkat kembali Ghosn ke jajaran manajemen. Nissan menyatakan fokus saat ini berada di bawah kepemimpinan CEO Ivan Espinosa, yang baru saja memperoleh dukungan pemegang saham dalam rapat tahunan tersebut.

Carlos Ghosn memiliki sejarah panjang bersama Nissan sejak bergabung pada 1999 melalui aliansi Renault-Nissan. Kesuksesannya membawa Nissan kembali profit dianggap sebagai salah satu kebangkitan korporasi paling spektakuler di industri otomotif. Namun, perjalanannya berakhir kontroversial pada 2018 ketika ia ditangkap di Jepang atas dugaan pelanggaran keuangan dan kemudian diberhentikan sebagai chairman Nissan dan Mitsubishi Motors. Setahun kemudian, Ghosn melarikan diri ke Lebanon dan hingga kini masih menjadi figur yang memicu perdebatan.

Di bawah kepemimpinan Ivan Espinosa, strategi produk Nissan berfokus pada perampingan portofolio, realisme pasar, dan transisi elektrifikasi yang pragmatis. Espinosa adalah arsitek utama di balik lini produk saat ini, menggeser arah perusahaan dari mengejar kuantitas penjualan era Ghosn menjadi fokus pada kualitas dan profitabilitas. Nissan Ambition 2030, cetak biru yang digagas Espinosa, mengedepankan pendekatan fleksibel terhadap elektrifikasi, berbeda dengan pabrikan lain yang langsung menyetop mesin bensin.

Munculnya usulan ini menunjukkan bahwa nama Carlos Ghosn masih memiliki pengaruh kuat di mata sebagian investor. Meski demikian, arah perusahaan tampaknya tidak akan berubah. Nissan saat ini lebih fokus menjalankan restrukturisasi global, meningkatkan efisiensi operasional, dan mempercepat pengembangan kendaraan listrik untuk menghadapi persaingan ketat, terutama dari pabrikan Tiongkok.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.