Media Kampung – Piring mengkilap setelah dicuci sering dianggap sebagai tanda kebersihan. Namun, tahukah Anda bahwa piring yang tampak kinclong belum tentu benar-benar bersih? Masalah residu sabun cuci piring yang tertinggal menjadi perhatian serius, terutama bagi keluarga yang peduli kesehatan.
Menurut Senior Brand Manager Kilau Nipis, Bondan Abdul Malik, banyak konsumen mulai mengeluhkan iritasi kulit tangan dan bau sabun yang masih terasa setelah piring dibilas. Hal ini menandakan bahwa sabun cuci piring yang digunakan mengandung bahan kimia berbahaya. “Kami melihat semakin banyak keluarga Indonesia yang mengeluhkan kulit tangan teriritasi akibat terpapar zat kimia dalam sabun cuci piring setiap hari, serta bau sabun yang masih tertinggal setelah piring dibilas. Keduanya dapat menjadi tanda bahwa sabun cuci piring yang digunakan mengandung bahan kimia,” ujar Bondan di Jakarta Fair Kemayoran 2026.
Pandangan serupa disampaikan aktris dan ibu dua anak, Nikita Willy, yang kini menjadi Brand Ambassador Kilau Nipis. Ia mengaku semakin selektif dalam memilih produk rumah tangga, termasuk sabun cuci piring. “Sebagai ibu, saya semakin memperhatikan produk yang digunakan di rumah, termasuk sabun cuci piring. Bagi saya, produk yang baik bukan hanya mampu membersihkan dengan maksimal, tetapi juga membuat saya merasa tenang saat produk tersebut digunakan untuk mencuci peralatan makan keluarga,” kata Nikita.
Kilau Nipis mengusung kampanye “Piring Bersih Alami, Bukan Kimiawi” di Jakarta Fair Kemayoran 2026 untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya memilih sabun cuci piring yang tidak hanya efektif mengangkat lemak dan bau amis, tetapi juga aman tanpa meninggalkan residu kimia. Kebersihan peralatan makan kini tidak hanya soal tampilan, tetapi juga kenyamanan dan keamanan bagi keluarga.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan